Rabu, 14 Mei 2014

Dialektika




23 Februari 2014.

Penemuan makam Tan Malaka di Selopanggung, Kediri disambut dengan beberapa penyikapan. Sejarawan Asvi Marwan Adam menghendaki pemerintah segera memindah makam tersebut ke Taman Kalibata. Alasannya, Tan Malaka sudah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional di era Presiden Sukarno. Sebaliknya, warga Selopanggung justru menghendaki makam tidak diboyong ke Kalibata. Tapi, direlokasi di daerah sekitar Selopanggung. Tujuannya, akan dijadikan objek wisata. Semacam tempat peziarahan. 

Mengingat peran dan jasa Tan di panggung pergerakan sejarah kemerdekaan, sepantasnya para sejarawan mengusulkan pemindahan tersebut. Sejarawan tentu mafhum tentang kerja intelektual dan pergerakan Tan Malaka dalam menentang kolonial Belanda. Momentum ini bisa dijadikan ajang untuk menempatkan posisi Tan Malaka di catatan sejarah Indonesia, yang sempat dihapus rezim Orde Baru.

Warga Selopanggung menangkap penemuan makam ini sebagai momentum untuk membuka objek wisata baru. Penemuan makam diharapkan sanggup mengundang rupiah. Makam tokoh nasional bakal merangsang orang-orang untuk datang berziarah. Peziarahan itu kelak dilengkapi dengan kenang-kenangan berupa foto dan pernak-pernik cinderamata. Dan, warga di sekitar makam bisa mengantongi rupiah dari penjualan pernak-pernik tersebut. Tidak perlu jauh-jauh. Makam Sukarno di Blitar berhasil mengangkat perekonomian warga sekitar. Antusias publik mengunjungi makam Sukarno tak pernah surut, pertanda kebanggaan masyarakat terhadap Sukarno masih besar. 

Perlakuan rezim Orde Baru dalam mencatat Sukarno tentu saja berbeda dengan Tan Malaka. Perlakuan terhadap Sukarno tak separah Tan Malaka. Orde Baru masih mencatat namanya dalam buku sejarah. Perlakuan buruk diterima Tan Malaka di era Orde Baru, ia dihapus dari catatan sejarah Indonesia. Hampir 32 tahun lamanya masyarakat Indonesia dipaksa tidak mengenal Tan Malaka. Publik mengenal luas pemikiran Tan Malaka pasca-Orde Baru tumbang. Bukunya mendapat rangking nomor wahid dalam jajaran buku kiri yang sempat dilarang. Apakah warga Selopanggung sudah membaca karangan-karangan Tan Malaka?

Nah. Pada akhirnya niat warga untuk mengobjek-wisatakan Tan Malaka adalah sebuah ironisme, untuk tidak menyebutnya sebagai kekaprahan. Perlakuan bermisi penghormatan justru keliru. Kita bisa mengingat Tan Malaka lewat setumpuk kitab warisan pemikirannya. Salah satu seruannya: mengingatkan masyarakat agar terlepas dari pengkultusan dan berpikir mistik, yang menurut Tan, penyebab dari ketertinggalan pola pikir bangsa Indonesia. Bangsa ini terbelakang akibat pola pikir mistik.  

Maksud mendirikan makam bakal memunculkan agenda peziarahan, ritual pendoaan berkecenderungan pada pengkultusan. Pada akhirnya, makam akan menjelma tempat keramat, ritus merawat kemistikan manusia. Justru, semua itulah kemungkinan-kemungkinan yang hendak ditolak oleh Tan Malaka. Sejumlah kitabnya mengajarkan manusia untuk terus berdialektika, berpikir secara kritis dan ilmiah, serta menolak pola pikir mistik. 

Niatan warga Selopanggung untuk membangun makam berbau aroma mistik dan ekonomistik tentu bakal bertolak-belakang dari gagasan-dialektika Tan Malaka. Mengawetkan ingatan lewat pembuatan makam atau pematungan, justru tak berbeda dengan kelakuan orang-orang kuno, seperti membangun candi, petilasan, dan makam untuk dikeramatkan. Publik, pada akhirnya, akan meragukan niatan warga Selopanggung tersebut: apakah pemuliaan, atau pemutarbalikan warisan pemikiran? 

Dialektika yang mengacu pada proses berpikir tanpa henti harus menjadi arus utama penyikapan penemuan makam Tan Malaka. Simak pesan prestisius Tan dalam pengantar kitab Madilog:“Mereka yang sudah mendapat minimum latihan otak, berhati lapang dan seksama serta akhirnya berkemauan keras buat memahaminya”. Misi buku demi menajamkan mata pisau otak manusia. Maka penemuan makam Tan Malaka harus berorientasi pada dialektika, berani membicarakan atau pun mengkritisinya. Kemauan untuk terus berpikir inilah kemauan Tan Malaka sebenarnya. Lain dari pada itu, kita justru sedang berseberangan dengan pemikiran beliau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar