Sabtu, 14 Desember 2013

Tak berobsesi berarti mati



Apa yang menarik dari pertemuan dengan seorang pengarang, jika kamu sendiri adalah orang yang sedang merangkak jadi seorang pengarang? Tentu saja, aku kira, lebih banyak hal-hal menarik yang bakal terjadi, minimal, perihal obrolan. Sudah bisa ditebak ke mana arah obrolan itu: tulisan, bacaan, dan hal-hal tentang kepengarangan, yang sebenarnya sudah “ada” di buku-buku para kampium sastra. Tapi, apakah yang lebih menarik selain mengobrolkan hobi dan kesukaan?

Senja itu aku gegas dari rumah kos ke kampus, melaju via sepeda motor, bertemu pengarang senior, S Prasetyo Utomo. Tidak biasanya aku begitu bersemangat menemuinya. Aku percaya, selain bertegur sapa di media massa, aku juga mesti menyempatkan bertegur sapa di dunia nyata. Serawung itu penting. Maka, jika kali ini aku bersemangat menemuinya, tentu saja karena aku jarang menyapa Pak Pras di media massa, atau pun di dunia nyata. Hmmm…  

Seperti sebelum-sebelumnya, obrolan bergerak tanpa basa-basi. Senja itu memang dipersiapkan oleh teman-teman di UKM sebagai obrolan proses kreatif. Pak Pras mulai bercerita, mengisahkan pegetahuan agar kami, para junior, melahap semua isi omongannya. Obrolan berkisah tentang apa saja yang mesti dimiliki pengarang agar tetap bertahan, tak tergiur urusan di luar kepengarangan. Mirip acara motivasi di televisi, menjadi pengarang pun punya jurus jitu. Ada empat pokok, sesuai ingatan saya, hal yang mesti dirawat dalam diri seorang pengarang: obsesi, style, inovasi, yang terakhir aku lupa. Tapi, kalau boleh menambahkan, tentu saja referensi. Obsesi dan referensi berkisar tentang individu, sedangkan style dan inovesi bergerak pada teks. Ibaratnya, inilah empat pilar kepengarangan.

Tak perlu kuceritakan bagaimana obrolan berlangsung, dan bagaimana Pak Pras mengurai empat pilar kepengarangan tersebut. Cukuplah aku dan teman-teman yang tahu. Obrolan bermutu ketimbang melewatkan senja di kamar sambil menonton lawakan konyol di tivi! Duh!

***
Sehari berselang, tepat ketika aku sudah teramat bosan, seharian berdiam diri di kamar, membolak-balik buku di rak, menyetel musik, mengantuk, minum Kapal Api, merokok, dan tidur antara sebentar. Malam hampir sempurna mendekati pukul dua belas. Mata mulai berat sebelah, pinggang mulai linu untuk duduk. Sebelum merelakan tubuh untuk tidur, kuambil buku bercorak hijau, bergambar helem tentara. Kumcer Laki-laki Lain dalam Secarik Surat karya Budi Darma. Romantis…  

Adegan agung, berangkat tidur dibuai sang profesor sastra. Haha. Sengaja tak kumulai membaca cerpen-cerpen tersebut. Aku hanya berniat menyempurnakan kantukku saja. Esai pendek pengantar buku jadi sasaran utama. Esai kalem penuh nutrisi. Esai berkisah tentang lawatan Budi Darma di Jakarta, bertemu sejumlah pengarang dan teman-teman pengarang. Budi Darma bertemu teman seprofesi, bertukar cerita, menambah gagasan. Wajar jika pertemuan sesama pengarang jadi mirip ibu-ibu cerewet. Bukankah pengarang suka mencuri-curi ide dari omongan teman-temannya yang sama-sama pengarang? Ah, saya tidak tahu persis dengan siapa Budi Darma mengobrol. Yang jelas, ia berkisah tentang obsesi bagi pengarang.

Seperti sebuah narasi dari obrolan senja kemarin, Budi Darma berkisah perihal obsesi. Ya, obsesi. Betapa vitalnya kata ini bagi pengarang. “Obsesi adalah modal”, kata Pak Pras. Budi Darma tak ketinggalan:”… obsesi pengarang, yaitu serangkaian pertanyaan yang terus menerus mendorong pengarang untuk menulis”. Obsesi jadi alasan kenapa pengarang bergerak menemukan inovasi, menyatu dengan style. Obsesi pulalah yang mendorong pengarang untuk terus menerus menambah referensinya tanpa henti. Berhenti adalah kematian bagi pengarang. Aku jadi teringat kalimat pamungkas Budi Darma dalam novelnya, Rafillus: Rafillus mati dua kali. Aku tak mau mati dua kali. Sekali mati, berarti berkali-kali.

Aku pun tak jadi mengantuk. Imajinasi bergerak mengikuti sejumlah obsesi. Aku berobsesi setiap akhir pekan tulisanku tampil di media massa. Aku beruntung masih punya obsesi. Tak berobsesi berarti mati. Aku terhenyak, hari ini aku belum menulis barang satu lembar. Aku bergegas ke kamar mandi, gosok gigi lalu menyalakan rokok. Merokok sehabis sikat gigi kadang memiliki sensasi tersendiri. Kunyalakan leptop,  dan jadilah tulisan pendek ini. Tulisan bermisi kantuk! Aku berobsesi bertemu Pak Pras dan Budi Darma dalam sebuah diskusi hangat, di sebuah cafĂ© dengan sayup-sayup iringan lagu Payung Teduh menemani. Wah! Adegan romantis bergelimang intelektual…

Pandean Lamper, 28 November 2013

Rabu, 18 September 2013

Novel (bukan) Kitab Suci

Novel memang “sihir” mujarab. Manusia sanggup menyelami pelbagai rupa manusia lewat suguhan tema, karakter, dan “ideologi” dari tokoh dalam novel. Novel memungkinkan adanya pemakluman, penyadaran, hingga toleransi atas konflik dan gesekan yang terjadi dalam realitas hidup bermasyarakat dan bernegara. Laku membaca novel mengajarkan manusia atas kesabaran, penghayatan, hingga pergulatan pemikiran. Novel tak sekadar kisah yang berhasil di khatamkan. Selebihnya, novel kerap membekas, memengaruhi, dan menyadarkan.

Kehebatan novel memang tak sebatas tebal halaman. Novel menjadi penuh makna saat menyampaikan ajakan bahkan ajaran tentang petilan-petilan kemanusiaan. Pembaca dirayu untuk terjun dalam imajinasi tak berkesimpulan. Novel menyampaikan meski kerap tak ditafsirkan seragam. Boleh jadi, novel adalah ajaran, meski tak wajib diamalkan. Novel bukan kitab suci yang mesti diagungkan. Novel boleh dipegang-dibaca siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Bahkan, di atas kakus, novel adalah bacaan bersahaja.

Di Indonesia, sejarah pernah mencatat kebrutalan Pemerintah dalam memberangus kemerdekaan novel. Novel pernah jadi semacam “manusia” berbahaya. Novel dengan kisah beraroma kontra-revolusioner, atau pun yang dituduh demikian, pernah terancam keberadaannya di era Presiden Soekarno. Wajar saja, pemimpin besar revolusi itu adalah sosok berhaluan revolusioner. Sebaliknya, di era Presiden Soeharto, buku beraliran revolusioner, atau pun yang dituduh bernafas komunis, ditentang habis-habisan keberadaannya. Novel jadi korban politik dan kekuasaan. Era di mana ideologi bisa memberangus kemerdekaan novel hingga nasib si pengarang novel. Sejarah memang tak pernah berwajah mulus. Novel adalah cermin pergolakan dan perubahan zaman. 

Novel dan Perubahan Diri

Meski imajinatif, novel menjanjikan pengalaman batin. Fragmen persoalan kehidupan ditampilkannya secara gamblang serta sarat sisipan gagasan dari si pengarang. Perkenalan dengan novel adalah tahap mengenali permasalahan kemanusiaan. Lebih jauh lagi, novel sanggup membawa perubahan tak sebatas jargon. Kenangan bersentuhan dengan novel adalah awal di mana pukau dunia sastra menjadi pilihan berkreatif meski belum menjadi profesi. Novel tipis bertajuk Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (H20 Publishing, 2007) karya S Prasetyo Utomo adalah momentum dan keberuntungan bagiku. Seperti pintu masuk bagiku menapaki lembaran kesusastraan dan kepenulisan. Membaca novel ini adalah pengalaman sepele namun berdampak besar dalam kehidupanku berikutnya. Kali pertama membeli sekaligus mengkhatamkan novel secara tuntas. Perkenalanku dengan novel memang belum selawas teman-teman yang lain.

Aku tumbuh, dan mengalami masa kanak-kanak hingga remaja di desa yang jauh dari aroma literasi, yang, harus diakui, menumbuhkan jati diri miskin referensi. Aku, juga teman-teman masa kecil, hidup di lingkungan masyarakat miskin fasilitas dan kesadaran berliterasi. Perpustakaan desa baru sebatas harapan. Di sekolah, perpustakaan tak ubahnya ruang pengap penuh jaring laba-laba. Buku tertumpuk lusuh jarang tersentuh manusia. Tidak ada novel di sana. Rak kecil nan usang itu dihuni beberapa tumpuk buku paket. Buku yang kaku dan dingin. Tegak dan menakutkan bagai barisan tentara. Aku pun tak pernah berhasrat menyentuh apalagi meminjamnya. Anak-anak sepertiku tumbuh tanpa banyak kesempatan mengimajinasikan kisah, tokoh, dan harapan dalam novel. Masa kecil bergulir tanpa keceriaan menggenggam novel. Terbentuklah seorang bocah tanpa kenangan bernovel, tanpa ketertarikan menyentuh halaman-halaman novel. Novel pun absen dari sejarah hidupku, minimal, hingga menjelang masa kuliah. Tapi aku tak pernah menyesal.

Perubahan datang tanpa mengenal terlambat. Perubahan muncul saat, untuk kali pertama dalam hidupku, novel perdana Pak Pras kukhatamkan dalam dua malam. Sungguh, waktu baca yang tidak sebanding dengan tebal buku 120 halaman! Novel ini sederhana namun bermuatan kritik sosial yang tegas. Berkisah tentang Panji, mantan wartawan. Ia keluar dari pekerjaan karena kerap dituduh terlalu kritis dalam mengolah berita oleh atasan. Ia pun memilih hengkang dari dunia jurnalisme yang sejatinya menjadi impiannya. Demi menenangkan diri, ia menyepi di rumah Mas Goen, kakak tirinya. Mencoba memungut ketenangan di sebuah desa di tepi hutan jati yang teduh. Bukan ketenangan yang Panji peroleh. Maraknya pembalakan dan pemborong tanah dari kota jadi polemik tak berkesudahan di daerah tersebut. Konflik di tepi hutan jati ini menyinggung pelbagai masalah tradisi, ekonomi, modernisasi, hingga cinta. Ada segan yang muncul dari novel ini. Ada hasrat untuk mengobrolkannya secara langsung dengan pengarang: S Prasetyo Utomo. Hasrat untuk membaca karyanya yang lain pun memuncak.

Ia, Pak Pras, seorang cerpenis-esais moncer di Semarang di mana karyanya tersebar luas di media lokal dan nasional. Maka cerpen dan tulisannya jadi incaranku sebagai pelunas penasaran. Puluhan cerpennya kunikmati dengan perenungan. Aku menangkap satu garis imajinatif yang merangkai mayoritas seluruh karyanya. Ada ketertarikan pada tema-tema lokal, tradisional, juga eksplorasi nilai-nilai kedewasaan. Kepedulian menggali tema-tema perlawanan budaya lokal versus gempuran modernisasi dan globalisasi memunculkan karakter tokoh serba kontradiktif. Selalu ada perongrong nilai-nilai lokal. Dan muncullah tokoh-tokoh penjaga nilai itu. Semua berkelindan, saling berkecamuk dalam balutan narasi, style, penggunaan mitos-mitos khas S Prasetyo Utomo. Aku giat menyimpulkan secara pribadi keterkaitan setiap karyanya meski belum sempat membuat esai panjang untuk mengapresiasinya. 

Rasa puas itu bagai gayung bersambut saat berlansung diskusi sastra di mana Pak Pras didaulat sebagai pembicara. Kuungkapkan segala teks yang pernah kucerap. Beberapa cerpennya: Penyusup Larut Malam, Cermin Jiwa, Ular Randu Alas, Pemuja Durga, dan seterusnya, begitu mengiang dan terkenang. Perkenalan dengannya adalah berkah dan sejarah. Pembicaraan yang berkutat seputar sastra dan kepenulisan tidak bisa tidak membawa sebuah doktrin besar dalam hidupku. Ideologi literasi muncul setelah beberapa kali perjumpaan dan perbincangan mengendap di dasar pikiran. Dari sebuah novel kecil itu, Tangis Rembulan di Hutan Berkabut, kegemaran bernovel tak lagi terbendung hingga saat ini, hingga saat tulisan ini selesai ditulis.

Perburuan Tak Sudah

Maka novel menjadi buruan tak terbantahkan saat memasuki toko buku, pedagang buku bekas, hingga toko buku online. Ada keinginan menjelajahi setiap ceruk novel demi harapan mendapati pengalaman batin yang baru. Memiliki novel adalah investasi intelektual, jauh dari kesan materialistis. Novel memang bukan barang yang layak digadai di pegadaian. Ia juga tak etis jika di jual dengan harga bombastis meski harga novel baru kerap mendekati mahal. Tak layak menilai novel dari pandangan ekonomistik.

Dan puluhan novel baru pun jatuh di genggamanku. Tentu dengan ketelatenan dan perjuangan bertamu ke pelbagai pedagang loak agar tidak terlalu mahal. Dari novel aku memetik nilai yang selama ini tak pernah terjelaskan secara menarik dalam ruang kelas. Novel kerap menampilkan informasi sejarah, ideologi, politik, tradisi, kebudayaan, hingga persoalan pribadi manusia. Dari sanalah aku menyerap nilai-nilai intelektual dan pengetahuan. Roman Pramoedya Ananta Toer kuanggap bagai kitab bertuah. Ada pelbagai pengorbanan untuk membuatnya berjejer di rak buku di kamarku. Pengorbanan waktu dan materi tak lagi ternilai demi novel-novel Pram. Ada belasan novel Pram berhasil kukhatamkan.

Dari ulasan-ulasan Pram pula, aku jadi berhasrat menelusuri novel pengarang dunia macam Boris Pasternak, Solzhenitsyn, John Steinbeck, Duong Thu Huong, Albert Camus, George Orwell, Leo Tolstoy, Nabokov, Yasunari Kawabata, Haruki Murakami, dan Maxim Gorky. Seleraku kian tumpah ruah. Novel Indonesia jadi hidangan mutlak saat rezeki sedang moncer. Aku masih terus berjuang membaca-memiliki novel-novel Seno Gumira Ajidarma, Mochtar Lubis, Ayu Utami, Leila S Chudori, Suparto Brata, hingga Sindhunata. Gelimang novel membawa faedah atas pemahamanku tentang kemanusiaan dan keindonesiaan.

Novel memang tak pernah usai memberi pencerahan dalam setiap kisahnya. Aku beruntung berkenalan dengan novel. Dari sebuah novel tipis itu aku berkenalan dengan pelbagai macam kisah dan tema. Membaca novel sekaligus berkenalan dengan S Prasetyo Utomo adalah berkah tak ternilai. Novel jadi santapan rohani berkat ajakan dan imbauan dari sang novelis “Sukro”. Novel Tangis Rembulan di Atas Hutan Berkabut adalah cara Tuhan memberi arahan padaku demi sebuah laku kreatif lagi penuh nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan. Novel telah jadi buku ajaran namun tak berhasrat menyaingi kitab suci.[] 


Negara Ramah Anak

Kecelakaan maut yang menimpa putra musikus kondang Ahmad Dhani, Abdul Qodir Jaelani alias Dul, jadi tamparan keras, tidak hanya bagi para orang tua, tapi juga negara. Kesalahan orang tua karena teledor dan membiarkan anak mengendarai mobil sebelum usia yang dianjurkan dalam undang-undang, itu sudah pasti. Namun, lepas dari peran orang tua, ada kiranya kita mencermati: benarkah kecelakaan yang melibatkan anak, semata, “hanya” kesalahan orang tua?

Bagi anda yang tiap harinya harus bertarung di jalan raya, untuk sekedar perjalanan atau urusan kerja, perhatikanlah sejenak lalu lalang para pengendara motor/mobil. Tidak sulit untuk menjumpai anak di bawah umur, dalam arti belum cukup umur untuk memiliki Surat Izin Mengemudi, mengendarai kendaraan di jalan raya. Ada yang berseragam sekolah, ada pula yang melenggang tanpa kelengkapan berkendara, seperti helm. Kita bisa segera berprasangka buruk. Menyalahkan orang tua karena melakukan pembiaran, misalnya.

Lantas, tidak adakah peran negara di sana? Saya yakin, negara, dalam hal ini aparat polisi lalu lintas, sudah bertindak tegas dengan menilang ataupun meningkatkan otensitas razia. Tapi, kenyataannya, para pengendara belia tersebut masih bebas berkeliaran di jalan raya. Ada hal yang menurut penulis mesti dikaji ulang terkait kecelakaan tersebut.

Fasilitas Publik

Pertama, angkutan massal di negara ini masih jauh dari nyaman dan aman. Di Jakarta saja, sebagai ibukota negara, masih terjadi banyak kekurangnyamanan angkutan publik. Apalagi di daerah pinggiran atau di kota-kota kecil. Tindak kriminalitas di atas angkutan publik hingga menelan korban nyawa kerap diberitakan di media massa. Kondisi ini menyebabkan orang tua kerap memilih memberi kemudahan izin bagi sang anak untuk berkendaraan pribadi meski belum cukup umur.

Kedua, kondisi infrastruktur publik. Kecelakaan yang menimpa putra Ahmad Dhani, Abdul Qodir Jaelani, semata bukan permasalahan kecepatan mobil. Lebih jauh lagi, konon sebelum bertabrakan dengan sejumlah kendaraan, Mitsubishi Lancer yang dikendarai Dul menabrak pembatas jalan hingga menerobos masuk jalur berlawanan dan bertabrakan dengan Daihatsu Gran Max silver. Dari tragedi ini, evaluasi atas infrastruktur jalan tol Jagorawi mutlak dilakukan. Minimal, pihak perancang jalan tol harus mengkaji ulang konstruksi jalan tol agar sanggup meminimalisir kemungkinan jebolnya pembatas jalan. Hal ini kelak berguna pula bagi kendaraan umum, terlepas dari kasus pengendara anak-anak yang menimpa Dul.

Ketiga, pembiaran negara atas gelombang motorisasi di kalangan masyarakat segala lapisan. Meski pada kasus Dul adalah pengendara mobil, pada kenyataannya sepeda motor juga marak dipakai para pengendara di bawah umur. Mudahnya izin kredit pembelian kendaraan bermotor yang tidak diimbangi dengan pengetatan kontrol dari kepolisian mengakibatkan pengendara di bawah umur kerap tak terpantau secara maksimal. Dalam satu keluarga setiap anak memiliki kendaraan masing-masing, misalnya. Keputusan masyarakat tersebut tentu bermula dari angkutan publik yang tidak bisa memberi jaminan rasa aman dan nyaman.

Keempat, peran edukasi di sekolah. Tidak bisa dimungkiri, sekolah memiliki andil dalam memberi nilai edukasi dalam berkendara sesuai aturan undang-undang. Sebagian besar waktu luang anak adalah di sekolah. Maka di sekolahlah proses pemahaman atas keselamatan berkendara mesti dipupuk. Meski penyuluhan safety riding dari kepolisian sudah masuk ke sekolah, hal ini belum maksimal. Meski melarang, sekolah tetap menyediakan lahan parkir dan pengawasannya pun kurang maksimal. Peraturan kerap sebatas hiasan di tembok sekolah. Dalam kasus ini, pihak institusi pendidikan tidak bisa lepas tangan.

Jaminan Negara

Peraturan undang-undang lalu lintas memang tegas melarang anak-anak untuk mengendarai kendaraan bermotor. Sangsi tegas pun disiapkan bagi orang tua yang melakukan pembiaran terhadap sang anak. Lantas, bukan berarti pula kontrol atas anak sepenuhnya jadi kewajiban orang tua. Seperti penulis ungkap di atas, faktor sekolah dan kesigapan aparat polisi lalu lintas juga mesti dipertimbangkan. Permasalahannya adalah, beranikah negara menjamin kenyamanan dan keamanan anak, terutama di daerah perkotaan?

Jika kita perhatikan secara detail, negara masih melakukan pembiaran terhadap faktor-faktor yang memicu anak berkendara sebelum cukup umur. Kita bisa membuktikan, betapa acara televisi ramai-ramai menampilkan adegan anak-anak berseragam sekolah yang, tanpa canggung, bermobil atau bermotor ria di jalanan. Kadang pula dibumbui adegan percintaan ala remaja. Nah! Tayangan yang demikian, tentu saja jadi model bagi anak untuk mencoba-coba mengendarai kendaraan. Padahal, kita punya Komisi Penyiaran Indonesia. Pada kasus ini, sudah jelas, negara abai terhadap tayangan non-edukatif. 

Dan, harus penulis tegaskan pula, betapa negara kerap lupa bagaimana membangun tata ruang, terutama kota, layak anak. Meski baru-baru ini sudah dimulai adanya perencanaan dan pelaksanaan program kota layak anak. Kita bisa melihat, betapa kota adalah tempat yang paling “berbahaya” untuk anak. Awam kita lihat anak-anak sekolah berjalan beriringan sepulang sekolah bersama teman-temannya. Mustahil saya kira. Hal ini terutama dikarenakan karena tindak kriminalitas yang mengancam anak-anak, seperti perampasan dan penculikan. Maka interaksi sosial yang terjalin sebatas sekolah dan rumah. Di sekolah mereka sibuk dengan pelajaran yang padat. Di rumah pun, mereka masih sibuk dengan tugas-tugas sekolah. Sedangkan tempat yang seharusnya dipakai untuk anak-anak berkumpul dan bermain bersama teman sebayanya, perlahan musnah digilas mall, kafe, dan pembangunan gedung bertingkat.

Maka, jalan(an) kerap jadi tempat mereka melampiaskan tercerabutnya ruang sosial mereka. Didukung lemahnya kontrol orang tua, longgarnya pengawasan aparat kepolisian, serta belum berpihaknya negara dalam melindungi keamanan dan kenyaman sang anak, terjadilah tragedi kecelakaan yang, kebetulan dialami seorang musikus kondang Ahmad Dhani, sehingga publik mengabarkannya sedemikian masif.

Kejadian yang menimpa Dul adalah peringatan, bukan hanya untuk para orang tua, tapi juga negara. Atas pelbagai pertimbangan di atas, beranikah negara menjamin keramahan dan kenyamanan untuk anak? Agar jalan(an) tidak menjadi alternatif ruang “bermain” yang jelas-jelas kita ketahui, sangat membahayakan.[]


Kamis, 12 September 2013

Biografi Keberuntungan

Penulisan otobiografi oleh seorang yang berprofesi penulis memiliki kelebihan. Terutama dalam kemahirannya memainkan bahasa, serta kecenderungan untuk menyajikan “kebenaran” secara imbang. Ia tak pernah malu-malu bercerita perihal kekeliruan dan kesalahan. Memoar tidak lagi sebatas album kenangan. Buku Wartawan Jadi Pendeta (2013) karya Putu Setia menampilkan uraian kisah tanpa terpusat pada pengupasan cerita semata.

Kisah ini menggugah tanpa terjerat label “biografi inspiratif”. Dilahirkan dari keluarga berkecukupan namun terjungkal dalam kemiskinan. Berawal dari tabiat sang ayah yang gemar berjudi, beberapa hektar tanah sawah dan kebun kopi pun ludes digerogoti rentenir. Konon, kemiskinan itu disebabkan pula oleh karma buruk keluarga karena menolak kewajiban menjadi pemangku: pemimpin upacara ritual di sebuah pura. Penulis memang lahir dan tumbuh di sebuah dusun dengan ketaatan tinggi kepada adat dan agama Hindu. Penolakan itu pun berbuah “vonis” dari masyarakat: rezeki seret dan miskin (hlm.16).

Kemiskinan merenggut harapan menunaikan sekolah menengah atas hingga khatam. Penulis mengenang masa-masa mengharukan saat baju seragam sekolahnya dijual sang ibu demi membeli makanan. Putu kecil pasrah. Betapa malunya tak bisa makan di Hari Raya Galungan (hlm.144). Impian bersekolah kandas demi urusan perut keluarganya. Namun, kegagalan meneruskan sekolah tidak membuat semangat hidup penulis tamat.

Kehidupan jalan terus. Penulis memutuskan pergi ke kota, mengadu nasib tanpa ijasah. Ia nekad melamar pekerjaan. Bisa dibayangkan, meminang pekerjaan tanpa ijasah. Keberanian itu menuai hasil, penulis diterima bekerja sebagai tukang gambar di Perusahaan Listrik Negara (PLN) sembari rutin menulis cerita pendek untuk dikirim ke koran. Ketekunan menulis justru kian menguat. Ia keluar dari pekerjaan demi fokus menekuni kepenulisan: jadi wartawan dan cerpenis.

Sungguh keputusan yang tepat. Karir wartawan kian moncer. Dari harian Angkatan Bersenjata edisi Nusa Tenggara hingga akhirnya diterima di majalah Tempo, tidak satu pun urusan ijasah/karir pendidikan mengganjal perjalanan karir penulis. Diterima tanpa pertanyaan jenjang pendidikan. “Keajaiban apakah yang ada pada seorang Putu Setia dalam meniti karirnya sebagai wartawan, kok bisa tanpa melamar?” Ya, saya tak pernah melamar, karena memang takut melamar. Ditanya soal ini soal itu, terutama pendidikan, apa yang harus saya jawab?”(hlm. 283). Putus sekolah memberi beban psikologis berkepanjangan bagi penulis. Hidup diliputi keminderan. Ia kerap disergap cemas yang hebat ketika berhadapan dengan pertanyaan jenjang pendidikan.

Kala masa jabatan sebagai Ketua Umum Forum Cendekiawan Hindu Indonesia (FCHI) berakhir setelah dua kali menjabat (1991-1995, 1995-1999), rasa gundah itu kembali menguasai pikirannya. “Tiba-tiba saya merasa sudah membohongi banyak orang, bagaimana mungkin orang “berpendidikan rendah” harus memimpin dan menggerakkan roda organisasi para intelektual? (hlm. 374). Meski penulis memahami, cendekiawan tidak diukur dari pendidikan formalnya. Belenggu “status pendidikan” terlanjur menancap di jiwa seorang Putu Setia.

Demikian pula saat berlangsung ritual penobatan pendeta. Pidato Ketua Parisada Dharma Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Sudiana saat penyambutan pendeta baru membuat penulis gamang tak karuan. Pidato panjang itu mengulas tentang maraknya pendeta yang lahir dari kalangan sarjana, S2, S3, hingga profesor. “Ingin rasanya saya mengambil mic yang dipakai berpidato itu, dan saya umumkan kepada hadirin bahwa pendeta yang lahir nanti adalah pendeta yang tak punya ijasah SMA , pendeta yang hanya lulusan SMP.” (hlm. 381).

Bagi Putu Setia, tekad menunaikan “utang” keluarga memang sudah begitu bulat. Karir sukses dan nasib baik diyakini buah dari kesediaan penulis menunaikan kewajiban keluarga sebagai pemangku. Tidak tanggung-tanggung, tidak hanya menjadi pemangku, penulis sekaligus hendak menjadi pendeta: gelar keagamaan tertinggi dalam umat Hindu!

Bagaimana mungkin seseorang yang tidak lulus sekolah menengah atas bisa menyandang gelar pendeta? Inilah pencapaian tertinggi dalam hidup Ida Pandita Mpu Jaya Prema (nama Putu Setia setelah dinobatkan jadi pendeta). Sebuah lakon panjang tentang keyakinan dan keberuntungan. Benar bila Goenawan Mohamad dalam pengantar menganggap buku ini merupakan sebuah ucapan rasa syukur dan sekaligus rasa berutang—dan penanggungan jawab mengapa itu perlu.


Kemampuan penulis dalam mendeskripsikan kisahnya tak perlu diragukan. Namun, bagi pembaca yang mengikuti tulisannya di koran, buku ini terasa jauh dari kesan eksentrik. Cita rasa humor memang masih bisa pembaca rasakan. Hanya saja, dalam merespons setiap momen-momen hidupnya, tidak ada taburan kata penuh kritik ataupun satire tajam yang biasa penulis ungkapkan dalam setiap tulisannya.  Buku ini hanya sebuah “penanggungan jawab” dan ungkapan kebersyukuran penulis atas hidup yang penuh keberuntungan. Lain, tidak.

Membantah Kematian Pengarang

Apakah pengarang benar-benar telah “mati”, ketika, teks dihadirkan di hadapan pembaca? Lalu, bagaimana kekayaan kultural sebuah teks sastra bisa digali selapis demi selapis, jika, latar belakang pengarang—sejarah diri, tradisi budaya tempat pengarang lahir dan besar—tidak ikut serta didedah?

Sederet pertanyaan tersebut adalah sedikit dari dalih Maman S Mahayana untuk tidak serta merta menerima esensi dari esai The Death Of Author (1977) karya Roland Barthes. Keyakinan Barthes, bahwa, teks yang sudah lengkap mewakili ihwal pengarangnya, bagi Maman, tidak sepenuhnya bisa disetujui. Melalui rangkaian esai yang terdiri dari tiga bagian ini: (1) tradisi dan intelektualitas, (2) pengarang dan dunia teks, (3) gerakan sastra Indonesia, Maman mencoba merunut peran kepengarangan dengan satu misi besar: pengarang tidak mati ketika teks disidangkan di hadapan pembaca.

Membaca teks dari tinjauan histori, berarti membaca semangat, kondisi dan keadaan etnografi dimana ia dilahirkan. Jejak kepengarangan adalah ruang untuk mengungkap bagaimana sebuah teks sastra mampu didedah secara intensif. Buku ini mengajak pembaca menyelami jagat sastra Indonesia sejak Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, hingga pandangan atas sastra Indonesia di masa depan. Dinamika sastra Indonesia membawa Maman pada satu pokok: menyoal peranan pengarang.

Penelusuran problem kepengarangan disampaikan dengan otokritik yang memotret kondisi atas intelektualitas, stigma dan peran sosial pengarang. Maman sempat menyoal sastrawan yang kerap mandeg dalam mengembangkan intelektualnya. Kondisi calon pengarang yang seolah-olah dilegitimasi oleh sikap yang lebih mementingkan penampilan tinimbang karya. Selain pengarang, laju sastra Indonesia juga diukur atas respon kritikus dan pembaca. Peran masing-masing adalah mutlak. Teks yang hadir harus diimbangi dengan respon pembaca. Dan teks itu sendiri, memerlukan kritikus untuk mewartakan ke publik: perihal kekayaan teks sastra dari pelbagai sudut tinjauan ilmu.

Pengarang, sebagai salah satu komponen kesustraan tersebut, sudah semestinya digali dan ditampilkan sebagai pamrih atas teks yang dihasilkannya. Teks adalah saripati pemikiran pengarang yang terbentuk berkat pengaruh tradisi dan budaya. Keberhasilan teks merengkuh nilai estetikanya, jelas, tidak bisa diceraikan dari biografi kultural pengarang sebagai “tuhan” atas karyanya. Karakteristik keindonesiaan yang lahir dari pengarang Indonesia tentulah tidak bisa serta merta dianggap “ada” dengan sendirinya.

Tinjauan sejarah menunjukan, sastra Indonesia begitu kenes menampilkan wajah lokalitas kultural masing-masing pengarangnya ke dalam teks. Maman sebagai kritikus menilai, dengan demikian, peranan pengarang pada level ini mampu mencakup ruang teks yang dihasilkannya. Pernyataan Barthes—pengarang sudah mati di hadapan pembaca--sepatutnya mendapat sanggahan. Melibatkan unsur pengarang dalam teks sastra, menjadi misi mengurai kekayaan nilai-nilai budaya, sejarah, dan politik. Yang demikian ini membantu pembaca dalam memahami relevansi situasi dan kontemplasi, serta etos penciptaan karya sastra.

Teks sebagai wakil dari keseluruhan tafsir—merujuk Barthes—menepiskan biografi diri pengarang dan sejarah penciptaan teks. Bagaimanapun, faktor tradisi dan budaya pengarang mempengaruhi cara pengucapan, gaya bahasa, atau diksi dari pengarang tersebut. Keterpengaruhan pengarang atas tradisi budaya bisa dibuktikan dalam beberapa contoh karya sastra, sebut saja semisal, Para Priyayi karya Umar Kayam, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Canting karya Arswendo Atmowiloto. Beberapa novel tersebut kentara menampilkan tradisi budaya pengarang dalam pengisahan cerita. Dari sudut pandang inilah, pengarang tentu saja “belum” mati. Pengarang muncul dalam teks sastra melalui ungkapan khas, gaya bahasa, juga diksi. Rangkaian dalih ini membawa posisi tawar atas esai the death of author-nya Roland Barthes.

Buku ini tampil dihadapan publik dengan desain yang mempesona. Kaver lukisan karya Herry Dim memberi semacam pertanda: keseriusan Maman untuk melangkahi pandangan Roland Barthes begitu kuat. Buku esai ini adalah iktikad mengurusi dan mengkritik sastra Indonesia sebagai bagian dari sendi-sendi kebudayaan. Karakteristik keindonesiaan yang dimiliki pengarang Indonesia, barangkali, luput dari analisa Barthes . Tanpa menepis ketajaman pisau kritik a la Maman S Mahayana, kumpulan esai ini mudah dipahami sebagai jalan menyelami kiprah pengarang dan sastra Indonesia. Demikian.

Senin, 09 September 2013

Antropolog Bicara Keagamaan


Publik pasti belum lupa. Kerusuhan sesama umat beragama yang terjadi beberapa waktu lalu di Sampang, Madura, menjadi kabar buruk bagi kesadaran toleransi beragama di Indonesia. Konflik tersebut terjadi antara dua aliran Islam: Sunni dan Syi’ah. Meski ada isu tentang sebab dan faktor lain yang mengakibatkan pecahnya kerusuhan tersebut, tetap saja, kejadian ini mencemari pandangan umum terhadap Islam. Permasalahan Islam di Indonesia memang sarat polemik tak berkesudahan. Dunia menengok ibu pertiwi dengan sinis dan miris. Islam jadi pesakitan atas peristiwa ini.

Konflik sebelumnya, pembakaran masjid penganut aliran Ahmadiyah oleh warga yang keberatan atas adanya aliran ini.  Terlepas dari sesat-tidaknya ajaran ini, pembakaran mesjid tetap tak bisa dibenarkan. Hal ini diperparah maraknya asli anarkis sekelompok oknum yang menamakan diri sebagai ormas Islam. Negara dipengecuti oleh serangkaian aksi sweeping, perusakan, hingga pemukulan.

Distorsi keyakinan dalam satu aliran agama, terutama Islam, bermula dari sempitnya pemahaman atas makna keberagamaan. Tafsir ayat suci menjadi sumber perbedaan. Studi agama yang terbagi ke dalam dua pendekatan: teosentris dan antroposentris, memaklumkan perbedaan. Kajian teoentris bertolak dari bagaimana Tuhan Allah (lewat Alquran) dan Rasullullah (lewat hadis) mengajarkan kehidupan pada manusia. Sehingga pemahamannya pun berlangsung sangat normatif (tekstual). Pemahaman teks Alquran dan hadis dicapai melalui kajian skriptualistik dan substantif.

Sedangkan pendekatan antroposentris berpijak dari bagaimana manusia merespons ajaran Tuhan dan rasul. Karena bertolak dari manusia, pendekatan ini ditekankan pada pemahaman dari para pelaku, bukan penghakiman dari pihak luar. Tinjauan antroposentris ini tidak memungkinkan tumbuhnya konflik beragama karena dikembalikan ke subjek manusia.

Tafsir skriptualistik sebagai bagian dari tinjauan normatif, menuntut pandangan atas ajaran agama sesuai teks dalam kitab suci. Teks dianggap sudah memenuhi pemaknaan ajaran secara jelas dan tuntas. Berkebalikan dengan tafsir substantif yang mengacu pada pengungkapan “makna” di balik Alquran dan hadis. Galian makna melalui kajian hermeneutika tak bisa ditolak. Akibatnya, kedua perspektif ini kerap bergesekan.

Dari kedua pandangan tersebut muncul singgungan kaum muslim: moderat, fundamentalis, liberalis, hingga konservatis. Sebagian lain, dengan pemahamannya yang sempit, memunculkan gerakan fanatisme-radikalis. Agama ditafsir keliru sebagai apologi atas fanatisme sempit, anarkisme, dan  terorisme. Agama dilakoni secara simbolis yang jutru menjauhkan manusia dari hakikat dan substansi ajaran agama.

Menyadari pentingnya solusi alternatif atas beda tafsir yang kerap menyulut konflik, cendekiawan muslim cum presiden keempat Indonesia Gus Dur menggemakan kesadaran keberbedaan melalui paham pluralisme. Sebuah kesadaran yang menganggap perbedaan—pandangan, agama, keyakinan, suku, wilayah, bangsa, ras, dsb—merupakan kekayaan bangsa yang patut dihargai dan dihormati. Dengan demikian, keberbedaan tidak disikapi sebagai alasan atas munculnya gesekan horisontal-vertikal. Gus Dur menekankan toleransi atas beda tafsir Alquran dan hadis. Dalam buku Tuhan Tak Perlu Dibela (1991) Gus Dur mengurai perlunya keselarasan kehidupan berbangsa dan bernegara, berdemokrasi, serta beragama.

Senada dengan Gus Dur, cendekiawan muslim Nurcholish Madjid (:Cak Nur) getol mengampanyekan pluralisme secara intelek. Serangkaian ceramah dan penerbitan buku digagas demi pemahaman jalan ketuhanan manusia secara lebih terbuka, demi ajakan untuk saling menghargai pilihan kebertuhanan. Sehingga, apa yang menjadi cita-cita pluralisme, tercapai secara lebih meluas.

Menuju Multikulturalisme

Buku Multikulturalisme Agama, Budaya dan Sastra, karya Prof. DR. Mudjahirin Thohir, M. A. menjadi penyambung gerakan pluralisme yang dikampanyekan oleh Gus Dur dan Cak Nur meski beda konsep. Buku hasil penelitian-perenungan seorang antropolog ini menawarkan solusi atas pelbagai risalah konflik keberagamaan di Indonesia yang hingga kini masih marak. Diawali pernyataan sarat renungan: “Siapa mengaku mencintai Allah, seharusnya ia mencintai mahluk-Nya”, buku elok nan memikat ini menyajikan solusi konflik keagamaan melalui tinjauan antropologis.

Prof. Mudja menggali permasalahan yang terjadi dalam kemajemukanan masyarakat Indonesia, dan menyajikan solusi kritis atas pelbagai konflik kemajemukan: multikulturalisme! Multikulturalisme meliputi keyakinan/ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan, baik secara individual maupun secara kebudayaan. Fenomena keberagamaan yang belum sanggup membawa perdamaian bagi pengikutnya, dikupas dan ditelaah melalui pendekatan sosial, kebudayan, dan keindonesiaan.


Ajakan untuk menganut dan meyakini multikulturalisme disajikan secara ringan dan menawan. Dakwah hadir tanpa menggurui apalagi menghakimi. Di antara solusi yang ditawarkan Prof. Mudja dalam buku ini ialah dengan meyakini, bahwa keyakinan keagamaan adalah hak individu dengan Tuhan. Sedangkan memandang orang lain yang berbeda secara aliran, keyakinan, suku, wilayah, dan ras, sebagai saudara adalah bagian dari ekspresi nurani kemanusiaan yang beradab. Maka tugas besar kita semua adalah menjadikan Indonesia sebagai bangunan besar yang nyaman ditinggali oleh semua.[] 

Minggu, 08 September 2013

Tragis Itu Eksotis


(Sekadar komentar untuk cerpen Aswatama Pulang karya Gunawan Maryanto, Koran Tempo, 8 September 2013)

Setiap teks selalu memiliki kemungkinan untuk “lahir kembali” dalam bentuknya yang berbeda, oleh pengarang yang berbeda pula. Teks yang lahir dari jejalan teks yang ada, kerap disebut intertekstualitas, adalah hal yang memungkinkan kreatifitas. Sebagain orang konon berkeyakinan, tidak ada teks yang tidak lahir dari teks lain. Setiap teks lahir berkat kausal yang merangsang dan memantik adanya bentuk lain. Oleh karenanya, cerpen, dalam bentuk yang paling sederhana sekalipun, adalah perwujudan dari teks-teks sebelumnya.

Pada dasarnya cerpen adalah cerita. Sebagaimana sebuah cerita, ia berdiri demi sebuah “cerita” itu sendiri. Ia bisa berangkat dari interteks yang beraneka ragam. Tak pelak, sebuah cerita kerap tak bisa lepas dari cerita-cerita yang mendahuluinya. Hal tersebut sangatlah wajar. Bahkan, tidak sedikit, sebuah cerita terangkat beberapa kali oleh pengarang yang berbeda secara “kebetulan”. Maka, interteks adalah kewajaran dimana pengarang sanggup menempatkan perspektif cerita secara berbeda.

Cerpen Aswatama Pulang karya Gunawan Maryanto, barangkali, bukanlah interteks yang utuh. Cerita ini mungkin mengingatkan pembaca pada tema-tema serupa yang pernah muncul dalam, misalnya, dongeng, legenda, novel, juga cerpen. Kisah tentang pergumulan seorang anak dengan sang ibu yang mengarah pada birahi tak biasa adalah realitas dalam sebuah cerita. Kita pun kerap menjumpainya di televisi, di berita kriminal. Berita di televisi memang kerap mendebarkan dan mencengangkan ketimbang kisah-kisah di dalam cerpen atau novel. Namun, Aswatama Pulang bukan sebuah berita yang tayang sebentar tanpa berbekas, seperti di televisi.  

Identitas

Identitas adalah perihal asal, akar, dan tempat berpulang. Manusia merasa perlu memiliki identitasnya secara utuh. Bahkan, meski identitas kerap menjadi berbahaya ketika di perbatasan dan pintu gerbang, seperti yang pernah Goenawan Mohamad ulas dalam Eksotopi, ia tetaplah jadi prioritas dan selalu jadi urusan serius. Aswatama adalah seorang anak umur 17 tahun yang tersesat di jalan tak biasa. Ia larut dalam “malam jahanam” bersama ibunya, Krepi. Bersama ibunya, Aswatama “saling pagut, saling gigit dan berguling-guling di ranjang”. Diawali mantra Jawa sebelum berhubungan badan, percintaan itu jadi fragmen eksotis meski getir dalam kisah Aswatama.

Tentu saja Aswatama tidak sepenuhnya lelaki bermoral bejat. Ia minggat dari rumah, meninggalkan jejak-jejak hitam di antara hubungannya dengan sang ibu. Ibu seolah bersanding dengan tanda seru. “Ibu” adalah mimpi buruk bagi Aswatama meski jadi rumahnya saat masa kecil. Ia menjauh, dan semakin menjauh. Dua puluh tahun menjauh dari birahi dan kekecewaan pada ibu. Hingga pada sebuah pembicaraan di telepon seluler, ia merasa dijambak ke masa lalu. Sejauh apa manusia meninggalkan jejak asalnya, tak bisa diduga, pada saatnya pasti ia akan kembali. Maka ketika sang ayah terbaring di rumah pesakitan, Aswatama tak bisa berontak dari masa lalunya yang jahanam. Ayah adalah sosok yang pernah memberinya ajaran untuk balas dendam. Membalas rasa dendan yang ia sendiri tidak tahu kepada siapa mesti ditujukan. Pada cerpen ini, pembaca mesti menafsir sendiri siapa “foto” yang konon jadi sasaran dendam Aswatama—fragmen ini serasa putus dari keterkaitan fokus cerita.

Cerpen ini berakhir bukan pada paragraf akhir. Pada paragraf awal cerpen ini justru menemu tautan yang mengisahkan betapa “malam jahanam” yang Aswatama lewati menjadi sebuah paradoks. Dari ayahnya, Aswatama tahu bahwa ibunya, Krepi, bukanlah ibunya yang sebenarnya. Ibunya adalah seekor kuda. Ya, seekor kuda! Bagaimana menalarnya? Pembaca tak perlu bersusah payah mencari pembenaran tentang bagaimana kuda bisa melahirkan jabang bayi. Cukup saja menyadari bahwa ini adalah cerita pendek. Kekecewaan sudah pasti melanda jiwa Aswatama. Betapapun ia pernah bersimpuh pada ibunya, menenggelamkan diri dalam pelukan Krepi yang begitu ia cintai. Meski pada akhirnya birahi mengguncang kasihnya pada sang ibu. Kekecewaan sebenarnya bukanlah pada sederet malam jahanam yang menimpa Aswatama. Lebih jauh, dibohongi selalu memantik kekecewaan. Aswatama bagai tercerabut dari identitas. Yang pada akhirnya muncul adalah kehilangan atas asal dan akar yang semula diyakininya tak ada masalah. Betapa pun ayahnya lantas menceritakan siapa ibunya sebenarnya. Siapakah dia, manusia yang rela dikatakan lahir dari seekor kuda? Apa lagi, setelah adegan bersetubuh dengan ibu palsunya jadi rahasia terbesar antara ia dan sang ayah. Ah, aku tak bisa membayangkan….

Tafsir

Hal-hal yang muncul dalam cerita pendek memungkinkan adanya sebuah tafsir. Cerpen Gunawan Maryanto kali ini adalah kristal yang meruncing tentang bagaimana interteks diciptakan, serta kerealitasan yang tak perlu dibuktikan seutuhnya. Atau, barangkali, bisa saja di katakan Aswatama Pulang adalah sebuah kisah surealisme. Namun, tampaknya inilah yang menonjol dari cerpen-cerpen Gunawan Maryanto. Dalam buku kumpulan cerpennya terdahulu, Galigi (Koekosan, 2007), kisah ibu yang bukan sebenarnya juga muncul dalam cerpen Galigi. Beberapa kecenderungan yang bisa ditangkap dari cerpen sebelumnya dan yang kali ini saya bahas adalah keliaran imajinasi dalam menggubah tokoh-tokoh dalam cerpen, hingga konflik-konflik yang kerap di luar jangkauan.

GM memiliki kecenderungan untuk menghadirkan cerita-ceritanya dalam jagat yang entah. Nama-nama yang merujuk pada tokoh wayang Jawa jadi semacam modal untuk menafsir makna dari sajian kisah yang menggabungkan antara intertekstualitas, keberanian imajinasi, dan olahan bahasa. Sastrawan kawakan Budi Darma menganggap cerpen-cerpen Gunawan Maryanto menawarkan dunia yang asing. Dunia yang seolah-olah ada antara batas realitas dan surealitas. Maka tak lain, cerpen Aswatama Pulang hampir mendekati seperti apa yang Budi Darma ungkapkan: dunia yang asing. Seorang lelaki anak seekor kuda, ibu yang berhasrat pada anaknya, lelaki bertangan pengkor dan berkaki pincang, serta nama-nama yang seolah muncul dari dunia wayang yang mistis. Kesemuanya itu jadi sebuah penegasan tentang betapa berartinya keberanian sebuah imajinasi dalam konstruksi cerita. Ketika keberanian imajinasi dan kemampuan mengaduk adonan cerita tidak ditonjolkan, cerpen bisa saja kalah saing oleh tragisme kehidupan yang kadang jauh lebih mengerikan. Bukankah persetubuhan anak dan ayah, anak dan ibu, kakek dan cucu, adalah galib terjadi di sekitar kita?

Maka, untuk melebihi “ketragisan” kenyataan tersebut, cerpen harus tampil dengan adonannya yang memikat. Dan, Gunawan Maryanto membuktikannya dalam menggali interteks, imaji, serta ketidakpatuhan untuk berpijak pada realis atau surealis. Sayang sekali, beberapa fragmen, di antaranya: dendam kepada Sucitra; adegan menmbak orang-orangan sawah; serta kenyataan bahwa ibunya adalah seekor kuda, yang karena tidak mengerucut dalam satu benang merah, menjadikan cerpen ini sarat “tempelan” yang, seperti saya ungkap di muka, memunculkan tafsir yang tidak fokus. Nah, barangkali itulah yang membuat cerpen ini saya baca hingga 3-4 kali agar saya tidak tersesat dalam dunia yang entah itu….