Jumat, 06 September 2013

Sejarah Bermata Eksil

(Setelah membaca novel Pulang karya Leila S. Chudori)

Sejarah selalu menampilkan wajahnya dalam seribu bentuk yang berbeda. Ia bukan kebenaran tunggal. Ia mempunyai sandi yang sulit diurai dan diluruskan. Manusia memberi kesaksian sebagai pamrih menguak arti “kebenaran” sejarah. Namun, tetap saja, manusia sukar mengukuhkan sejarah dengan utuh, tunggal. Selalu ada suara yang muncul demi menunaikan kesaksiannya.

Indonesia sesak atas bercak dan noda sejarah di tubuhnya. Tragedi G30S adalah luka yang terlalu sulit untuk dihilangkan bekasnya. Luka itu terlalu dalam, terlalu banyak penghilangan nyawa manusia sebagai mahar kekuasaan dan dinamika politik. Mereka yang menjadi korban, hilang tak kembali. Mati tak bernisan dan tak berjejak.

Sebagian bernasib baik daripada mati sia-sia. Mereka adalah yang (kebetulan) sedang bertugas di luar negeri. Mereka memang tidak mati. Tapi, manakah yang lebih baik antara mati tinimbang hidup dalam teror dan pengucilan kehidupan? Mereka dicap “kotor” oleh pemerintah Indonesia. Di perantauan, di negara yang bukan Tanah Air sendiri, mereka terus dikejar, diburu, difitnah, dan tak ada celah bagi mereka yang pernah menganut, menjadi bagian dari keluarga, atau sebatas kenal, juga simpatisan, komunis.

Dimas Suryo, seorang yang sama sekali tidak terlibat, netral, namun mengenal tokoh-tokoh komunis, menjadi “korban”. Dimas menolak sebutan “korban”. Menjadi korban, seolah-olah kalah, tak mampu berbuat apa-apa. Dimas berjuang, melawan, dan membuktikan kebenaran atas keyakinannya.

Saat tragedi berlangsung, Dimas sedang menghadiri Konferensi International Organization of Journalists di Santiago, Cile, karena tugas pekerjaan dari tempatnya bekerja, kantor berita Nusantara. Ia menjadi “buronan” karena dituduh “berteman” dengan aktifis PKI. Dengan segala cara, ia dan teman-teman senasib, mendapat suaka di Perancis. Hidup sebagai buronan tanpa pernah melakukan kesalahan adalah siksa hidup tiada tara. Mereka harus bertahan, berpindah-pindah, demi kelangsungan hidup mereka. Dengan susah payah serta persatuan para eksil inilah, berdirilah sebuah restoran Tanah Air di Rue de Vaugirard, Paris.

Restoran Tanah Air adalah perjuangan dan perlawanan. Di sini mereka mempertahankan prinsip hidup mereka sebagai seorang eksil yang merasa dikhianati pemerintah. Mereka adalah kaum yang setia pada Indonesia, meski ditentang oleh pemerintah Indonesia. Puluhan tahun mereka bertahan tanpa kepastian nasib menginjakan kaki di tanah kelahiran. Hidup dirantau dengan sejuta kutukan dari penguasa adalah luka yang teramat menyayat bagi para Indonesianis yang tertawan tak bisa pulang.   

Hingga saatnya tiba, tibalah kabar yang entah itu kabar baik atau buruk. Tragedi Mei 1998, kerusuhan pecah di Jakarta. Rezim Orde Baru hendak menaikan harga BBM. Di tengah krisis yang berkecamuk, diperparah dengan masuknya kerabat Presiden ke dalam kabinet, terjadilah aksi dari seluruh elemen masyarakat yang dimotori mahasiswa, menentang kisruh pemerntahan yang sudah berkuasa bertahun-tahun. Satu tuntutan reformasi: turunkan rezim Orde Baru!

Reformasi bergema hingga ke Paris. Impian untuk kembali menengok tanah yang selama in mereka perjuangkan; tanah yang selama ini mereka banggakan; tanah yang justru membuat mereka tak bisa kembali berpuluh tahun lamanya. Di usia mereka yang semakin tua, adakah “pulang” masih menjadi momen yang istimewa?


Mereka yang terlanjur mengalami luka yang teramat pedih akibat cap, stigma, fitnah, serta teror yang terus berkepanjangan? Adakah mereka memilih “pulang” meski belum adanya jaminan, bahwa, pemerintah berikutnya sanggup membersihkan label “pengkhianat” pada diri mereka karena beban sejarah yang pernah mereka alami? Novel Pulang (Kepustakaan Populer Gramedia, 2013) karya Leila S Chudori adalah sejarah yang memancar dari mata, luka, dan jerit kaum eksil yang bertahun-tahun tak diakui “keindonesiaannya.” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar