Jumat, 06 September 2013

Englishman in New York karya Sting: Ihtiar Menjaga Budaya Asal

I’m an alien
I’m a legal alien
I’m an Englishman in New York


(Englishman in New York, Sting)


Studi kebudayaan, tentulah tidak serta merta dilacak melalui produk kebudayaan yang ada. Namun, berbagai macam karya seni juga bisa dipelajari dan ditelaah. Karya seni merupakan hasil pemikiran manusia yang berasal dari budaya tertentu. Kongkritnya, hasil karya seni dari berbagai macam kebudayaan yang berbeda, akan menghasilkan saripati yang berbeda pula. Karya seni menampilkan wajah kebudayaan dalam berbagai rupa dan nilai. Pendekatan melalui karya seni dalam mempelajari kebudayaan tertentu diharapkan mampu menguak estetika dan pesan yang terkandung.

Melalui sebuah lagu, kita dapat menelisik sejauh mana pesan dan makna sebuah lagu dalam membaca kebudayaan. Sebuah lagu berjudul Englishman in New York karya Sting, adalah potret cross cultural case yang bisa kita pelajari. Lagu ini disajikan secara unik—dibalut dengan irama Jazz yang kental, liukan saxophone menyayat ala blues—mengungkap sebuah problematika hidup atas dasar permasalahan budaya dalam lingkup manusia yang mengungkapkan minuman sebagai penanda (baca: identifikasi budaya tertentu).

 
Lagu ini bercerita tentang seorang lelaki berkewarganegaraan Inggris yang sedang berada di New York. Dengan pergulatan budaya yang ada, ia tetap percaya pada keakuannya: ia merasa seorang Inggris yang juga harus menjunjung tinggi keinggrisannya. Juga, sebagai lelaki dewasa, ia harus mampu menaklukan permasalahan terkait adaptasi dan kebudayaan.

Dibuka dengan: “I don’t drink coffee/I take tea my dear/I like my toast done on the side”, lagu ini berpotensi membawa ekspetasi akan pergulatan tokoh “aku lirik” dalam menyikapi permasalahan sepele: memilih minuman! Aku lirik memberi identifikasi lewat sebuah pilihan minuman: kopi dan teh. Pembaca dibawa pada suasana ringan namun mengandung pemaknaan eksistensialisme. Seseorang dengan perbedaan budaya dan rentang wilayah yang teramat jauh: Inggris dan Amerika.

Judul Englishman in New York seolah menjadi petunjuk mutlak. Pilihan atas minuman mampu jadi penanda budaya. Ya, seorang Inggris berada di kota New York, dan mencoba mempertahankan eksistensinya sebagai seorang Inggris. Hal tersebut diungkap dalam lirik pembuka. “Englishman” cenderung memilih minum teh ketimbang kopi. Teh menjadi pilihan seorang Inggris yang santai, dewasa. Berbeda dengan New York yang memilih kopi. Kopi seolah mengabsahkan New York sebagai kota yang tak tidur. Begitu pula dengan pilihannya pada kopi. Kopi menjadi teman bagi masyarakat New York. Kehidupan yang rutin dan terus menerus sekiranya menjadi alasannya memilih kopi.

Pada bait berikutnya:”Manners maketh man”, adalah pengakuan aku-lirik yang meyakini adanya kebiasaan yang membentuk kepribadian.
Aku-lirik memahami akan posisinya di negeri orang. Dan, ini pula yang membuatnya teguh dengan eksistensinya sebagai seorang Inggris. Pilihannya pada teh memberi kesan identifikasi kultural pada sosok seorang Inggris. ”Englishman” menyukai teh karena lebih bersifat santai.

Coba perhatikan bagian reffrain lagu ini: I’m an alien/ I’m a legal alien/ I’m an Englishman in New York. Aku lirik merasa benar-benar seperti seorang Alien. Ia benar-benar merasa asing dengan kondisi sekitar, layaknya Alien. Ya, Alien yang sah, mempunyai surat keterangan yang memadai (baca: legal). Keakuannya sebagai Englishman tetaplah dijaga. Dan, ketika lagu ini kita telaah secara keseluruhan tekstual, tampak sekali aku-lirik ingin berkata bahwa sebagai lelaki maupun perempuan, harus siap dengan pelbagai perbedaan budaya.

Pada akhirnya: pemahaman budaya liyan tanpa tercerabut akar kultural budaya sendiri. Dengan demikian, meski merasa bagai Aliaen Legal, ”Englishman” kukuh berdiri sebagai pribadi Inggris. Penghormatan atas budaya dan pribadi sekaligus. Manusia, sebaiknya, bisa melestarikan budaya lokal, tanpa alergi berbaur dengan budaya asing.

Lagu Englishman in New York ingin menyampaikan sebuah pemahaman tentang pentingnya menjaga budaya asal yang kelak kita bawa ketika sedang berada di daerah yang bukan menjadi wilayah budaya sendiri. Aku-lirik mencoba berpikir tenang ala orang Inggris, meski sedang di New York. Bahwa lebih baik menjaga diri dengan tidak mengganggu dan mengusik budaya lain, namun tetap menjaga keakuan budaya sendiri. Lagu ini berhasil menampilkan konflik hidup dalam lintas budaya secara individu. Dari lagu ini pula, tentulah, permasalahan cross cultural, minimal, bisa ditampilkan ke khalayak. Semoga, karya seni yang sanggup mengungkap perihal kebudayaan semakin banyak lahir. Begitu pula apresian karya seni yang semakin kritis dan peduli. Sehingga imitasi budaya serta impotensi budaya lokal bisa terus diminimalisir. Semoga.***

(Tulisan ini saya buat satu tahun silam. Kebetulan pernah tampil di Buletin Keris edisi 9 Maret 2012. Ah, rasanya ada yang ”beda” membaca tulisan lama)


    

1 komentar:

  1. yang suka musik saya ada rekomendasi..ke ( Keisha Cantik Channel ) aja di YouTube lagunya enak2 dah ada lirik dan terjemahannya juga. semoga bermanfaat

    BalasHapus