Selasa, 13 Agustus 2013

Demi Suara yang Paling Jujur

:dari film r.i. hingga novel Pulang

1

Pada mulanya berawal dari sebuah film r.i. (2011) sutradara A Dananjaya. Film ini mewartakan petilan sejarah Indonesia yang tercecer di belahan Eropa. Tragedi G30S adalah inspirasi pantang kering dari pelbagai sudut pandang: ekonomi, politik, kesenian, kesastraan, hingga kebudayaan. Judul film ini, r.i., memancing gairah menduga. Menempatkan singkatan pakem menjadi judul multitafsir. Mengacu konten film ini, penulis pastikan, maksudnya Restoran Indonesia: restoran di titik nol kilometer negara Perancis.

Restoran Indonesia bukan sembarang restoran. Ia lahir dari luka sejarah dan tikaman politik. Tragedi G30S menjadi kelahiran duka tak tertebus. Mereka: A Umar Said, F Cisca Fanggidaej, Ibrahim Isa, Soejoso, Soeranto Pronowardojo, Windrajati Soekowardojo, JJ Kusni, Sobron Aidit, dan lainnya, bersaksi dalam film tersebut demi suara yang jujur, yang sanggup menembus batas waktu dan kekuasaan. Kesaksian mereka adalah cerita tak terbantahkan atas kebohongan sejarah versi pemerintah Orde Baru.

Alkisah, banyak pemuda dikirim belajar ke luar negeri semasa pemerintahan Soekarno. Mahasiswa, seniman, wartawan, serta pemuda berprestasi lainnya, menjadi tumpuan pembangunan Indonesia saat itu. Rezim berganti dan diawali konflik politik bergelimang darah. Pemberontakan G30S yang dituduhkan kepada PKI menyebabkan konflik di segala bidang. De-Soekarnoisasi pun terjadi. Segala yang “kiri”, dan yang tidak mengikuti anjuran Orde Baru, harus dibabat. Jend. Soeharto adalah lakon saat itu. Getaran gejolak dalam negeri terdengar oleh mereka yang sedang belajar di luar negeri. Mereka yang sedang tugas belajar, diwajibkan menjalani screening project oleh Kedubes: mengutuk Soekarno sebagai bagian dari konsekuensi G30S. Soeranto Pronowardojo, mahasiwa Univ. Lumumba, Rusia, mengaku menolak tegas. Bagaimana mungkin ia mengutuk Soekarno, yang jelas-jelas mengirim mereka demi kepentingan bangsa. Penolakan itu berakibat fatal. Mereka yang menolak, segala fasilitas kewarganegaraannya pun dicabut, termasuk paspor, dan dicap komunis serta dilarang kembali ke Indonesia. Harapan untuk “pulang” pupus. Mereka bagai gelandangan di negeri orang. Mereka yang berhasrat belajar di luar negeri demi kemajuan Tanah Air, bahkan dicap pengkhianat.

Namun mereka tak ingin diam. Mereka harus bersuara, berjuang, dan melawan. Mereka yang dinihilkan Tanah Airnya (pemerintah) sendiri, enggan begitu saja menerima. Nasionalisme menjadi energi tak pernah habis. Dan, Restoran Indonesia adalah wujud nyata perjuangan mereka. Melalui restoran ini mereka bertahan dari segala pengkerdilan Orba. A Umar Said dkk menganggap Restoran Indonesia tak lain adalah wadah perjuangan untuk tidak menyerah. Restoran Indonesia adalah bentuk keindonesiaan mereka.

Film r.i. ini tak pelak mengundang haru dan emosi. Sutradara A Dananjaya berhasil mengungkap-memublikasikan kesaksian para kaum eksil yang penuh semangat dan keharuan itu. Publik mendapati suara yang berada ribuan kilometer di belahan Eropa itu, lantang terdengar menentang hegemoni referensi sejarah Indonesia versi Orde Baru.

2

Membaca novel Pulang (2012) karya Leila S Chudori, saya seperti menangkap benang merah dari film dokumenter r.i. karya A Dananjaya. Imaji yang tertuang dalam narasi impresif novel Pulang menjadi utuh dan sempurna berkat data dan visualisasi film tersebut. Tentu saja penciptaan kedua karya seni tersebut mempunyai dalihnya masing-masing. Saya hanya ingin mengatakan, film r.i., adalah awal bagi saya memasuki dunia Pulang yang ketat, emosional, serta kaya akan referensi historis. Mengawinkan kedua karya ini akan membawa pemahaman pembaca dan penikmat film ini menjadi utuh dan komplit.

Novel dengan galian tiga peristiwa besar: Jakarta, 30 September 1965; Paris, Mei 1968; dan Indonesia, Mei 1998, memuat data dan rekaman gejolak sejarah. Membaca Pulang kita akan berpetualang di antara gebalau tokoh-tokoh yang berdiri dengan konflik yang menderanya. Ketegangan demi ketegangan tercipta dari curahan tokoh-tokoh yang dalam hidupnya merasa diburu, diliputi emosi, serta dibayangi stigma “kotor” yang melekat padanya.

Dimas Suryo, Lintang Utara, dan Segara Alam adalah tiga sumbu dari masing-masing konflik besar. Pilihan dan sikap Dimas Suryo terhadap pilihan politik di era 60an adalah deskripsi pelik—betapa politik adalah harga mati. Seorang yang mencoba netral dalam pilihan berpolitik, akhirnya terseret arus politik yang kacau. Dicap “kotor” menjadi konsekuensi politis-ideologis atas pilihan sikapnya tidak “berpihak”. Dimas bukan kanan, bukan pula kiri. Ia adalah orang yang merangkul kanan dan kiri. Namun, politik bukanlah ihwal kenetralan sikap. Politik adalah keberpihakan. Berpihak, demi orang banyak, dan atas kepentingan orang banyak, bukan sebuah kesalahan—menukil Goenawan Mohamad. Dimas, dengan berteman dekat dengan Hananto Prawiro, seorang pengikut realisme-sosialis, adalah kesalahan. Dimas akhirnya terkungkung sebagai eksil. Dimas pun tak sendirian: ada Nugroho, Risjaf, dan Tjai. Mereka tak sudi disebut korban. Mereka adalah patron perjuangan para eksil di Perancis, dengan Empat Pilar Tanah Air yang mereka banggakan. Sebuah restoran yang tak sekadar restoran. Restoran wadah perjuangan, yang ideologis, yang nasionalis.

Lintang Utara, sebagai putra sang eksil, adalah media intelektual penuturan dan pencarian kebenaran atas masa lalu ayahnya yang bertahun-tahun tertutup rapat. Lintang yang cerdas, aktraktif, kritis, sanggup memunculkan wacana sejarah secuil demi secuil hingga tuntas. Lintang tidak sendirian, ada Vivienne Deveraux, ibunya. Aktivis perempuan Perancis, yang juga mantan istri ayahnya. Misteri tragedi kehidupan Dimas Suryo perlahan terkuak. Ketika Lintang memutuskan untuk mencoba melakukan studi ilmiah tentang tragedi G30S, di sinilah cerita berkembang menjangkau wilayah konflik Orde Baru era 1998. Orde baru yang kropos, akhirnya memungkinkan celah penguakan segala kebancian peristiwa G30S. Melalui tokoh Segara Alam, putra Hananto Prawiro, petikan narasi ini memberi imaji politik sarat keberpihakan.

Jalinan cerita yang menjembatani dua tragedi besar di Indonesia ini, tak pelak membangkitkan emosi pembaca atas malpraktek sejarah, kebobrokan birokrasi, kebangkrutan ekonomi, hingga tragedi kemanusiaan. Tuntutan reformasi mahasiwa dan masyarakat luas, merembet pada kisruh politik yang pernah terjadi di Indonesia. Tuntutan reformasi itu berujung penembakan, penjarahan, pendiskreditan etnis, serta ambruknya sendi ekonomi Indonesia saat itu. Kemenangan Segara Alam dkk (mahasiswa), harus dibayar dengan sedemikian kasus pelanggaran HAM berat. Peluru angkatan darat meluncur bagai tak bertuan. Novel Pulang menarasikan sedemikian kisah duka manusia sebagai individu yang tertutup kabut kekuasaan dan egoisme politik. Novel ini ditutup dengan sajian penuh haru dan emosi atas “pulangnya” Dimas Suryo ke Indonesia, tepatnya di Karet. Di tempat yang ia wasiatkan. Ada air mata yang tiba-tiba meluncur tak tersisa di pipi pembaca. Novel ini sukses mengurai kesedihan dan emosi pembaca pada wilayah sarat pergulatan politik, sejarah, dan birokrasi.

3

Sejarah, seharusnya ditampilkan dari berbagai versi, dari berbagai sudut pandang”, tukas A Dananjaya dalam wawancara behind the scene film r.i.. Begitulah seharusnya sejarah itu dibentuk. Sejarah selalu menampilkan dua sisi yang berbeda. Tragedi G30S adalah tragedi sejarah dengan “ribuan mata”. Maka “ribuan mata” itulah kebenaran sejarah yang sebenarnya. Bukan sepasang, bukan pula dua pasang. Sudah saatnya melempar dalih “sejarah milik penguasa” ke tempat sampah. Sejarah harus dikupas dari pelbagai pendekatan, kesaksian, dan dokumen pendukung. Antara film r.i. dan novel Pulang, barangkali, berangkat dari pemikiran yang hampir sama: menampilkan sejarah dari mata yang paling minor dan diminorkan. Keduanya mencoba memberi perspektif lain agar sejarah tidak bopeng dan pincang.

Wacana membuka tabir pemakzulan kebenaran adalah agenda mendesak dan utama. Bangsa Indonesia sudah terlalu kenyang disumpeli kebohongan dan kepura-puraan. Kelahiran novel Pulang sepatutnya disambut tak sebatas kisah. Derai emosionalitas tokoh, serta tema sejarah yang diungkap melalui jalur literasi ini adalah angin segar bagi novel berkualitas di Indonesia. Novel yang berpijak pada keinginan mulia: menampilkan sejarah dengan wajahnya yang utuh dan komplit.[]



Tidak ada komentar:

Posting Komentar