Selasa, 13 Agustus 2013

Ratu, Diana


Hari itu tanggal 31 Agustus 1997. Diana Frances Spencer, atau lebih terkenal disebut Lady Diana, bersama Dodi Al Fayed, ditemukan tewas dalam sebuah kecelakaan mobil. Dodi tentu bukan suaminya. Sebelum bercerai, Diana adalah seorang ratu Wales di kerajaan Inggris. Perceraiannya dengan Pangeran Charles memaksanya melepas gelar “Lady”.

Kematiannya adalah duka dunia. Saluran teve nasional, tak henti-henti menyorot prosesi pemakaman sang “mantan” ratu. Penyebab kematiannya tak pelak jadi sorotan. Kecelakaan, terkadang, tak semurni takdir Tuhan. Dugaan pun berkembang: sebagian kalangan menduga ada konspirasi. Kecurigaan menjadi wajar; kehidupan Diana adalah penghalang bagi mantan suaminya Pangeran Charles untuk menikah. Kesaksian ini diperkuat dengan terbitnya buku A Royal Duty karya Paul Burrel, pelayan setianya. Surat kabar The Mirror memuat berbagai kutipan surat Diana kepada Burrel:”Seseorang merencanakan kecelakaan pada mobil saya, rem blong, dan luka kepala yang serius, dengan tujuan memuluskan jalan bagi Charles untuk menikah.”

Kisah cinta memungkinkan berita menarik, namun, terkadang picisan. Romansa Lady Diana dan Pangeran Charles adalah mesin uang bagi pencari berita. Kabar yang beredar, kematian Diana akibat dikejar-kejar para pencuri gambar—paparazzi. Namun, kita tak perlu memandang rendah kisah picisan ala glamouritas keluarga kerajaan Inggris. Ada hal yang jauh lebih menarik tentang Diana: kepeduliannya pada rakyat.

Rakyat, sesuatu yang seolah-olah tuhan, yang seolah-olah besar dan harus selalu dikasihani, bagi Diana, adalah apa yang benar-benar ditemuinya. Rakyat tak lagi utopis seperti anggapan birokrat dan politikus. Diana menemui rakyatnya, menyalaminya, bertukar keluh kesah. Semasa masih memakai mahkota ratu, kepedulianya pada rakyatnya kerap mencubit otoritas Istana Buckingham. Diana mencintai rakyatnya secara nyata. Barangkali mirip pemerintahan gubernur Jakarta sekarang, Jokowi. Hal ini pula yang menarik simpati warga Inggris. Pangeran Charles, sang Raja, seolah menjadi bintang kelas dua di bawah Diana.

Kepedulian seorang Ratu, tidak sepenuhnya didukung oleh pihak kerajaan. Sikap arif sang ratu memicu konflik dengan pangeran. Gebrakan Diana dengan usaha menolong penderita korban AIDS menuai sanjungan dari pelbagai pihak. Tak hanya itu. Diana memiliki badan amal Leprossy Mission bagi penderita lepra, English National Bellet bagi para Tunawisma, serta, penentangannya terhadap ranjau darat. Kunjungannya ke Angola berbuah kampanye anti-ranjau. Angola sebagai negara terbanyak pengguna ranjau darat mendapat serangan kritik dari sang “ratu”. Pasca-pelepasan gelar Ratu Inggris pun, Diana masih tampil sebagai sosialita yang dekat dengan penderitaan rakyat.

Diana meninggal dengan kemisteriusan yang tak terkuak. Tragedi ini adalah luka bagi sejarah kerajaan Inggris. Feodalisme memang tak menghendaki saingan dalam kerajaan. Untuk itulah sistem ini kerap memicu perang saudara. Perempuan yang sudi dinikahi oleh pangeran atau raja adalah korban. Bagaimanapun, tugasnya hanya memberi keturunan yang cakap, cerdas, dan menawan. Ratu, sebaiknyalah duduk manis di dalam istana. Dan, tugas sebuah kerajaan (pemerintahan) memang kerap tidak melulu tentang rakyatnya. Dan Diana menentangnya. Kehidupan kerajaan justru membuatnya semakin jauh dengan rakyatnya. Menjadi seorang puteri tidaklah seindah yang kita bayangkan. “Panggil aku Diana, bukan Puteri Diana,” ucap Diana suatu ketika.

Buku Panggil Aku Diana Saja (Instink Publishing, 2005) suntingan Abd. Mukhit mungkin tidak sampai memberi kepuasan pada pembaca. Namun, iktikadnya menyampaikan sekelumit tragedi tentang Diana memberi sekelebat cerita tentang dunia kerajaan, kapitalisme media, serta feodalisme yang mengerikan. Diana adalah korban dari ketiganya. Semangat humanisme tidak membuat mereka yang peduli, tunduk di hadapan lawan-lawannya. Diana tak sempat menulis buku, tak juga meninggalkan catatan harian. Namun, ia menanggalkan sprit humanisme yang tinggi. Humanisme yang kerap dilupakan kaum elit. Keputusan ini memaksa ia lebih dulu pergi, dengan luka berat di kepala, serta dengan tanda tanya yang semakin beranak-pinak. []


Tidak ada komentar:

Posting Komentar