Selasa, 13 Agustus 2013

Halusinasi Mengisahkan Neraka

Judul: Lukisan Neraka
Penulis : Ryunosuke Akutagawa
Penerbit : Kansha Publishing
Terbit : Mei, 2013
Tebal : 200 halaman
ISBN : 978-602-179-612-2



Neraka, dalam konsep agama, dimaknai sebagi tempat pembalasan amalan buruk manusia setelah wafat. Buku Kamus Bahasa Indonesia (2008) mencatat neraka sebagai alam akhirat tempat (api) penyiksaan untuk orang yang berdosa. Buku berjudul Lukisan Neraka dan Cerpen Pilihan Lainnya (2013) karya Ryunosuke Akutagawa (1892 – 1927) memuat enam cerita pendek. Di antaranya mengisahkan ambisi manusia dalam “memotret” keadaan, kondisi, dan suasana neraka ke dalam sebuah lukisan. Lantas, seperti apakah lukisan neraka itu?

Konon, hiduplah seorang Pangeran Besar di Horikawa. Ia dikenal begitu kontroversial oleh rakyatnya. Segala tindak tanduknya kerap di luar perkiraan. Pangeran kerap mengajukan permintaan-permintaan aneh. Di antaranya, Pangeran pernah menyuruh putra tercintanya dikubur di bawah tiang penyangga jembatan tanpa tujuan yang jelas. Pangeran juga gemar meminta dibuatkan lukisan, terutama kepada Yoshihide, pelukis yang juga kontroversial, amoral, serta berperilaku kasar.

Yoshihide mentahbiskan dirinya sebagai pelukis nomor satu di Jepang. Setiap lukisan yang lahir dari tangannya selalu mengundang decak kagum dari masyarakat. Ia pun kerap melakukan aksi-aksi konyol sebelum melukis. “Pelukis yang belum matang tidaklah mungkin bisa memahami keindahan yang tersimpan dalam sesuatu yang buruk,” ujar Yoshihide (hlm. 16). Meski berpenampilan urakan, kasar, dan sombong, ia tetaplah manusia yang memiliki cinta kasih. Kepada anak gadis satu-satunya, yang menjadi pelayan muda Pangeran Besar, Yoshihide mencurahkan seluruh kasih sayang. Apapun akan ia lakukan demi menjaga putri kesayangannya.

Hingga pada satu kesempatan, Yoshihide diminta oleh Pangeran Besar untuk membuat sebuah lukisan neraka. Yoshihide menyanggupi, dengan syarat, Pangeran Besar bersedia membakar sebuah kereta dengan penutup daun jambe, berisi perempuan bangsawan, di hadapannya. Bukan Pangeran Besar namanya, jika tak sanggup memenuhi syarat tersebut. Maka disusunlah rencana pembakaran tersebut. Tiba saatnya malam ritual “gila” itu dilaksanakan.

Disaksikan Pangeran Besar dan Yoshihide, pembakaran kereta berlangsung mencekam. Suara erang perempuan dari dalam kereta yang terbakar! Tanpa Yoshihide ketahui, perempuan bangsawan yang ia minta sebagai syarat, justru putri kesayangannya. Bisa dibayangkan perasaan Yoshihide saat itu. Lalu, sanggupkah Yoshihide menyelesaikankan lukisan neraka itu?

***
Begitulah ciri khas karya Ryunosuke Akutagawa, sastrawan “antik” dari Jepang. Penulis novel dan cerita pendek dengan kecenderungan imajinasi kelam dan mencekam. Sebelumnya, terjemahan novel Kappa (Interprebook, 2009), sudah lebih dahulu beredar di Indonesia, juga menampakan kisah sarat halusinasi kacau dan mistis. Novel pendek berisi satire dan analisis sosial budaya Jepang. Selain karyanya, kisah hidup Ryunosuke juga tak kalah absurd dan menggentarkan.

Ryunosuke lahir dan tumbuh dari keluarga bermasalah. Ayahnya seorang pribadi yang temperamental dan ibunya pengindap schizofrenia akut, meninggal saat Ryunosuke berumur sepuluh tahun. Masalah psikologis keluarga memengaruhi perkembangan selera bacaannya, yang tertuju pada tema-tema ganjil dan gaib. Kegandrungan membaca buku-buku kuno, serta kesedihan hidup sedari usia muda, tercium jelas di setiap tulisannya.

Seperti halnya nasib sang ibu, Ryunosuke mengindap schizophrenia, halusinasi akut, dan kemerosotan mental. Tepat tanggal 24 Juli 1927, ia ditemukan tak bernyawa oleh istrinya karena minum terlalu banyak kalium sianida. Tak mengherankan jika buku ini menyajikan sederet imajinasi dengan kecenderungan deskripsi halusinatif.

Kisah seputar dimensi amoral (Lukisan Neraka), halusinasi kematian dan kisah mistis (Roda Gerigi, Dewi Agni), serta kesedihan masa kecil (Gerobak Dorong), menjadi pengabsahan atas tema-tema kelam Ryunosuke dalam dominan cerita. Kisah tersebut tak pelak mengundang tafsir pembaca atas dunia imajinasi penulis yang, bisa dikatakan, ”sadis”. Jonjon Johana, penerjemah buku ini, berhasil memindahkan “kengerian” cerita secara detail, tanpa mengesampingkan estetika sastra: salah satu kelemahan proyek penerjemahan buku.

Namun sayang, buku ini luput menyajikan pengantar bagi pembaca. Paling tidak, memberi sedikit ulasan karya dan membicarakan sepintas sejarah psikologis Ryunosuke. Kehadiran pengantar memungkinkan bagi pembaca awam memasang “kuda-kuda” mental sebelum masuk ke dunia halusinasi dan imajinasi kontradiktif ala Ryunosuke.[]

Dimuat di Solopos. 10 Agustus 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar