Senin, 12 Agustus 2013

Buen Camino!

Oleh: Widyanuari Eko Putra

Yang menarik dari sebuah perjalanan, biasanya, adalah tujuan. Sebuah akhir, perhentian, sebagai alasan kenapa jalan harus ditapaki, selangkah demi selangkah. Lantas, pada akhirnya harus diakhiri. Chairil Anwar, mungkin, tidak menyadari, betapa “seribu tahun”, adalah nominal, yang pasti akan terpenuhi—meski bukan oleh dirinya, namun oleh generasi setelahnya. Sajak itu bermakna di bawah rasio “seribu tahun” lagi. Setelahnya, sajak “Aku” adalah catatan sejarah.

Bukan berarti perjalanan mutlak memerlukan akhir. Yang menghendaki sebuah titik akhir adalah kefanaan. Umur adalah satu di dalamnya. Pikiran, hasil pemikiran, tentu berlainan. The Way (2012), sebuah kisah tentang a naked trafficking pilgrim, perjalanan ziarah yang sebenarnya, mungkin saja menangkap realitas yang tak mungkin dimungkiri dalam kefanaan. Perjalanan jauh dari Pyrenees, Perancis, ke Santiago de Compostela, 800 kilometer barat laut Spanyol. Orang melakoni hiking religius ini karena sebuah alasan: sebagian orang percaya ada peninggalan Santo Yakobus, Yesus, di Santiago de Compostela. Selebihnya, tentu saja iseng. Jika tidak ada halangan berarti, konon, perjalanan ini menghabiskan dua bulan berjalan kaki. Wah!

Buen Camino! Salam sesama peziarah. Empat manusia bertemu dari masing-masing keinginan. Kisah ke empat tokoh tersebut menjadi menarik, justru, tidak dalam rangka perjalanan religius. Thom, Joost, Sarah, dan Jack, adalah sebuah fragmen kehidupan. Tokoh utama, Thomas “Thom”Avery diperankan oleh Martin Sheen, menjalani ratusan kilometer perjalanan demi sebuah penebusan rasa sesal: anaknya tewas karena cuaca ekstrem saat memulai perjalanan ini. Ia merasa wajib menuntaskan hasrat anaknya. Nafsu ayah, yang tak lebih sebagai penebusan rasa dosa karena kerap menghakimi sang anak, dilakoni lewat misi ini. “Anak adalah anak panah”, tentu sama sekali tidak benar, baginya. Di lain pihak, Joost menganggap perjalanan ini tak lebih dari usaha mengecilkan perut tambunnya, dan Sarah—sang perokok kelas pawon—, demi niatnya berhenti merokok, menempuh pilgrim’s route. Hanya Jack yang menaruh harapan besar bagi lawatannya: ia seorang penulis blog dan majalah. Ia bernafsu menerbitkan buku perihal pengalamannya menaklukan rute super jauh ini. Dari alasan yang tak sama itulah mereka dipertemukan dalam satu tujuan.

Meski pada akhirnya rute ini terbayar, film ini hendak menawarkan sebuah perspektif. Sebuah pemaknaan yang tak sepele apalagi picisan. Bagi seorang tanpa nafsu bertualang seperti saya, tentu bukan hal mendesak untuk menera, atas peristiwa apakah kerang, shell, termaktub sebagai simbol sebuah perjalanan ziarah? Barangkali Soe Hok Gie tahu. Namun, tetap saja film ini mengesankan. Jalan memang sepenuhnya hanya media. Ia tak pernah berkewajiban menyediakan tujuan. Baginya, sudah teramat cukup bila ada yang sudi menelusuri. Sebuah jalan adalah sebuah pilihan. Terkadang tak lebih dari hiburan. Kecuali bagi para romusha di Indonesia, yang menebus kokohnya jalan dengan darah, air mata, dan nyawa semasa pemerintahan kolonial Belanda.
Manusia memilih tujuan yang sama meski berbeda jalan. Mereka yang hidup di “jalan” karena merasa tidak memerlukan akhir adalah tak berbeda dengan sebuah jalan kepenulisan. Seorang penulis adalah manusia yang selamanya hidup di “jalan”. Puncak-puncak dunia kepenulisan adalah koma (,), bukan titik (.). Ia yang merasa mencapai “titik” sebaliknya sedang berdiam untuk menyiapkan kematiannya. Karena itulah, misalnya, ada dikotomi yang teramat tebal antara sastrawan Eko Tunas dan S Prasetyo Utomo, ketika, mereka harus berbincang perihal cerpen Indonesia mutakhir. ET tertinggal dari cakrawala SPU tentang sastra koran karena cenderung menuju ke arah kesenian panggung. SPU berjalan terus menikmati jalan tanpa keraguan sedikitpun. Ia akhirnya berbaris bersama cerpenis Indonesia mutakhir sementara ET cukup puas sebagai seniman “Jawa Tengah” saja.

Dan inilah yang saya renungi dari The Way: jalan hanya perlu sebuah keyakinan. Adapun tujuan adalah pemanis. Toh pada akhirnya fim ini ditutup dengan sebuah aforisma tokoh Jack. “Penulis, mereka selalu ingin kata terakhir. Tapi ini…” Kalimat ini tentu tidak eksklusif. Ia berlaku egaliter. Jack, sang tokoh penulis blog, bisa mungkin adalah Jack Hitt, penulis buku Off The Road: A Modern Day Walk Down The Pilgrim’s Route Into Spain.

Penafsiran saya barangkali salah. Karena terkadang kita pernah terjebak masuk pada sebuah jalan buntu. Jalan di mana kita tak sekalipun menerka. Dan memaksa kita berputar arah, atau meneruskannya. Dengan konsekuensi, sama ketika kita memilih jalan sebagai sebuah keyakinan. Ia tidak akan pernah memberi jaminan atas sebuah tujuan…



Tidak ada komentar:

Posting Komentar