Jumat, 15 Oktober 2010

Alangkah Lucunya [negeri ini]; Indonesia dalam guyonan



……

Indonesia raya, merdeka merdeka

tanahku negeriku yang kucinta

Indonesia raya merdeka merdeka

Hiduplah Indonesia raya…

[amin..]



Di sela upacara bendera merah putih yang dlaksanakan secara sederhana; menggunakan tiang dari kayu pohon yang masih alami, peserta upacara sedikit tanpa seragam apapun dan entah di hari apa, seorang anak kecil tiba-tiba ikut serta dalam upacara saat menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dan dengan lantang ana kecil itu berkata amin di akhir lagu. Sebuah bentuk kritik pedas yang bisa ditangkap bila penikmat film mau mencerna makna ucapan-ucapan dalam film besutan sutradara unik Dedi Mizwar dalam filmnya Alangkah Lucunya [negeri ini].



Hal kecil dan sering kita jumpai pada kehidupan sehari-hari yaitu berkaitan ritual upacara bendera─yang seolah-olah hanya diperuntukan bagi anak SMP, SMA dan para guru. Dewasa ini tentunya semua orang pernah merasakan upacara bendera. Sewaktu masih di SD/SMP/SMA, seluruh siswa diwajibkan mengikuti upacara bendera hari senin. Sebuah rutinitas yang difungsikan sebagai penghormatan terhadap sang saka Merah Putih demi memupuk rasa nasionalisme.



Apa yang disiratkan pada penggalan adegan film di atas sungguh begitu mengena. Menyanyikan lagi Indonesia Raya dimaknai seorang anak kecil tak berpendidikan menjadi sebuah doa untuk bangsanya. Amin, ungkapan lugu dari seorang pencopet kepada bangsanya. Adegan tersebut mengingatkan bahwasanya kenyataan yang ada dalam menyikapi lagu Indonesia Raya hanya sebatas menyanyikan lagu biasa. Dengan santai, tanpa penghayatan dan bahkan kadang disertai guyonan. Karena sesungguhnya jika pemahaman kita terhadap lagu Indonesia Raya bisa ditekankan secara mendalam, maka akan kita temukan kedalaman teks lagu tersebut sebagai sebuah doa yang begitu khidmat dan mendalam. Pengetahuan yang justru jarang dimaknai mayoritas masyarakat Indonesia.



Film Alangkah Lucunya [negeri ini] bercerita tentang fenomena-fenomena permasalahan bangsa yang justru dianggap sebagai kelucuan-kelucuan yang tak perlu dipikirkan secara serius. Berawal dari konflik seorang tokoh bernama Muluk, seorang sarjana manajemen yang hamper frustasi dalam mencari pekerjaan. Keadaan memaksa Muluk untuk berpikir keras demi mendapat pekerjaan sesuai bidangnya. Maka kemudian Muluk mendapat ide ketika pertemuannya dengan seorang anak--komet-- yang berprofesi sebagai copet. Kenapa copet penulis anggap sebagai profesi? Karena memang ternyata copet tersebut mempunyai sebuah organisasi yang lebih besar.



Pertemuan dengan copet memunculkan ide bagi Muluk untuk menggunakan SDM para copet tersebut agar mau meninggalkna profesi kurang baik tersebut dan beralih ke profesi yang halal, ngasong. Muluk menemui pimpinan copet dan menjelaskan niatnya untuk mengubah pemikiran anak-anak agar mau beralih profesi. Dan kenyataan sungguh memprihatinkan, ternyata mereka tidak bisa baca tulis, tidak punya agama dan benar benar buta sekolah. Karena hal itulah Muluk mengajak Bang Samsul; seorang pengangguran lulusan sarjana pendidikan yang menghabiskan waktunya dengan main gaplek, serta Pipit yang merupakan seorang pengangguran lulusan sarjana agama yang menghabiskan waktunya dengan menonton kuis di televisi. Dengan kerjasama mereka bertiga akhirnya terbentuklah sebuah sekolah sederhana di areal pencopet yang kumuh.



Dari pekerjaan barunya ini Muluk dkk berani meyakinkan pada orang tuanya bahwa dia sudah mendapat pekerjaan yang layak dan menjanjikan. Hingga akhirnya muncul inisiatif dari Bang samsul untuk menunjukan pada Bang Haji [ayah pipit] dan ayahanda dari Buluk. Kenyataan tak seperti apa yang diharapkan, alih-alih orang tua mereka akan bangga terhadap usaha menyalurkan SDM para pencopet justru menjadi merasa sangat kecewa terhadap apa yang yang dilakukan oleh Muluk dan Pipit. Orang tua mereka menganggap usaha yang sedang digeluti tersebut adalah haram karena menggunakan uang hasil mencopet. Di sinilah konflik mulai memuncak. Muluk dan Pipit memutuskan untuk menghentikan usahanya dalam mendidik para pencopet. Meskipun Bang Samsul bersikeras meyakinkan bahwa tindakan tersebut halal, namun Muluk tetap bergeming.



Kepergian Muluk dan yang lain dari kelompok copet ternyata menyisakan kekecewaan dari pimpinan copet tersebut. Karena ternyata kepedulian Muluk terhadap para pencopet berhasil membawa pengaruh yang lebih baik. Sebagian copet ada yang sudah beralih profesi menjadi pengasong meski masih ada yang mencopet.



Di akhir cerita film ini mengadegankan sebuah kenyataan yang teramat miris namun begitu biasa terjadi di lingkungan sekitar kita. Muluk memutuskan kursus setir mobil dan kebetulan saat itu sedang praktek belajar setir ia bertemu para pengasong yang dulunya adalah para pencopet. Sungguh tak terduga ketika Muluk merasa usahanya tidak sis-sia mengubah pencopet menjadi pengasong, justru rombongan Petugas Ketertiban Satpol PP datang dan menangkap pengasong karena dianggap mengganggu keindahan kota. Muluk tidak rela anak didiknya ditangkap, kemudian ia berusaha menghentikan penangkapan tersebut. Muluk berdebat serius dengan petugas dan akhirnya rela menukar dirinya untuk ditangkap petugas untuk menggantikan pengasong yang tadinya akan ditangkap petugas. Anehnya Muluk tetap ditangkap meski dia tidak punya salah apapun, yang justru dia disalahkan karena dianggap membela pengasong untuk berjuang mencari rejeki halal. Diiringi lagu Tanah Airku karya Ibu Sud, film ini ditutup dengan sebaris petikan dari pasal 34 ayat 1 UUD 1945 “fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara negara”



Jangan harap anda akan menemukan kelucuan-kelucuan ala parodi di siaran tivi swasta kita, banyolan-banyolan yang hanya mengumbar kelemahan dan aib orang lain. Dedi Mizwar berhasil menempatkan judul dengan berani memasang title “lucu” yang justru tidak akan membuat anda tetrtawa terbahak-bahak. Hanya geli, mesam-mesem mendengar dialog tokoh-tokoh serta melihat adegan-adegan yang …***



Widyanuari Eko Putra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar