Minggu, 13 Maret 2016

Sastra dan Narasi Kampung

Manusia urban menempatkan kampung halaman sebagai tempat berpulang. Di kampung, orang-orang beristirahat, bernostalgia, dan mengurai segala kepenatan. Sejauh apa pun kita mejelajahi waktu di perantauan, kampung tetap merangsang kerinduan. Kota yang banal, sibuk, gersang, dan terburu-buru, berkebalikan dengan kampung yang lamban, ramah, dan teduh.
Pemaknaan kampung dan kota pun beseberangan. Kota tak akan sanggup menggantikan kampung. Kampung harus tetap ada demi mengimbangi pertumbuhan kota yang semena-mena. Kampung ibarat pemberi angin segar bagi manusia, pupuk bagi keimanan menjadi manusia beradab. Meski begitu, pada akhirnya kita pun tak kuasa “menahan” modernitas masuk kampung. Kampung bergerak mengikuti perubahan zaman. Kita gelisah membayangkan wajah kampung bakal mengikuti nasib kota.
Perubahan “wajah” kampung bisa kita lacak lewat sekian karya sastra. Para pengarang ibarat pembaca tanda-tanda, penangkap simtom-simtom perubahan zaman. Pengarang melihat kampung sedang merangkak menjadi kota tapi tak tahu arah dan peta yang jelas. Kampung terkepung agenda pembangunan dan kapitalisme. Satu demi satu, lahan sawah, hutan, dan perkampungan diincar untuk digantikan hotel, pasar modern, dan perumahan mewah.    
Cerpen Dalam Pusaran Kampung Kenangan (Horison, XXXIX/2005) karangan Puthut EA secara eksplisit mengisahkan kampung yang berganti wajah. Cerpen itu berkisah perihal seorang pemuda yang mendapati kampungnya berubah, tak seperti saat ia masih bocah. Konon, kampung pemuda itu dulu begitu meriah. Banyak pemuda berkumpul di warung kopi dan mengobrolkan apa saja. Surau-surau tak pernah sepi dari bocah-bocah mengaji atau sekadar bermain dengan teman-temannya.
Puthut bercerita: Perubahan yang diam-diam kami sembah dan kami ikuti, tetapi semuanya hanya setengah hati. Dan ketika kampung kami terseret dalam arus yang hampir sama, kami tidak bisa terima, kami tidak bisa ikhlas, dan kami mungkin tidak adil. Puthut memberi pengisahan reflektif, mengingatkan kita agar tak terlalu menghamba pada perubahan. Saat musim pemilu, kata “perubahan” justru bisa terdengar ratusan kali sehari, dari iklan televisi hingga panggung kampanye.
Di koran dan telivisi, kampung gampang masuk pemberitaan: jalan rusak, rumah tak layak huni, serta pengangguran yang berlimpah. Orang kampung mungkin tak memungkiri jika mereka berharap jalan-jalan kampung diaspal dan fasilitas umum dibangun, seperti halnya di kota-kota besar.
Namun, pembangunan tak jarang berlagak sembrono. Pembangunan itu melibas citra kampung yang sejuk dan rukun. Orang-orang berduit tak hanya membuka minimarket yang mengancam pasar tradisional. Pabrik-pabrik ikut masuk kampung. Pabrik itu menggoda warga agar lekas bekerja tanpa harus berpendidikan tinggi-tinggi. Sekolah menjadi tak menarik akibat pabrik mengiming-imingi mereka pekerjaan bergelar buruh.


Dalam novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (2009), S Prasetyo Utomo penuh kegetiran mengisahkan kampung sebagai tumbal kapitalisme berkedok pembangunan. Secara terperinci, Prasetyo mengisahkan: Tak lagi kulihat ketenangan manusia yang bermukim di dalamnya. Mereka berperangai gelisah. Pada hamparan tanah luas bekas kebun dan sawah, di sisi hutan karet yang dibabat, mulai didirikan rumah-rumah baru. Truk datang membawa bahan bangunan, terguncang dengan sarat bak muatan….
Prasetyo memilih ungkapan “tak lagi kulihat ketenangan” dan “gelisah” untuk menjelaskan apa yang ia lihat-rasakan perihal kampung. Bagi Prasetyo, kampung sudah ikut-ikutan berisik, jauh dari ketenangan.  
Berbeda dengan Prasetyo, bagi penyair Wiji Thukul kampung justru mengarah pada bagian dari kota namun berkebalikan secara “nasib”. Kita bisa lekas mengimajinasikan suasana kampung lewat puisi berjudul Kampung (1993). Thukul tentu merasa berhak mengisahkan kampung dalam lintasan ingatan dan kenangan pribadinya.
Thukul menulis: lalu gadis-gadis umur belasan/ keluar kampung menuju pabrik/ pulang jam enam/ bermata kusut keletihan/ menjalani hidup tanpa pilihan// dan anak terus lahir berdesakan/ tak mengerti rumahnya di pinggir selokan// bermain-main di muka genangan sampah/ di belakang tembok-tembok/ mereka menyumpal di dalam gang-gang/ berputar-putar dalam bayang-bayang/ mencari tanah lapang.
Puisi seperti lukisan keterpinggiran. Kita membayangkan kampung ada di antara desakan bangunan kondominium dan tembok-tembok pabrik yang angkuh. Di kampung itu, hari-hari tak lepas dari ketergesaan. Lewat puisinya, Thukul mengabarkan kampung yang telah kehilangan ruang bagi anak-anak untuk bermain di “tanah lapang”.
Grup musik Silampukau lewat lirik lagu Bola Raya (2015) memberi kritik atas hilangnya ruang terbuka hijau atau lapangan yang kerap dijadikan tempat bermain bola anak-anak muda. Simak petikan liriknya berikut ini:  Kami rindu lapangan yang hijau/ Harus sewa dengan harga tak terjangkau/ Tanah lapang kami berganti gedung/ Mereka ambil untung, kami yang buntung.
Sekian karya itu telah bersaksi mengabarkan nasib kampung di hadapan ambisi manusia-manusia serakah. Sastra bisa jadi pengingat bahwa kampung tak boleh ikut-ikutan ditembok atau diminimarketkan. Dari waktu ke waktu, jejak-jejak nasib kampung di Indonesia terekam dalam pelbagai karya sastra. Karya-karya itu menarasikan kampung sebagai pesakitan akibat pergerakan zaman yang tak terkendali. Sastra mengingatkan kita agar tak ikut-ikutan meminggirkan kampung.[] 

Dimuat di Republika, 13 Maret 2016

Bacaan:
Majalah Horison, XXXIX/2005
Tujuh Penyair Jawa Tengah. 1993. Kicau Kepodhang I. Solo: Taman Budaya Jawa Tengah
Utomo, S Prasetyo. 2009. Tangis Rembulan di Hutan Berkabut. Semarang: H2O Publishing
Silampukau dalam album Desa, Kota, dan Kenangan (Moso’iki Records, 2015)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar