Senin, 03 Februari 2014

Suprapto Suryodharmo dan Gagasan Membenahi Jawa



Dilahirkan menjadi manusia Jawa: berkah atau kutukan?

Hujan begitu deras mengguyur Semarang, banjir sedang merambat secara perlahan. Suara air jatuh di genteng mirip kecerewetan manusia. Hujan membawa berkah, seorang teman datang berkunjung. Aku memerlukan obrolan ketimbang lamunan. Hujan sore itu aku kedatangan tamu, seorang perempuan yang baru saja kukenal dari dunia maya. Ia datang bersama harapan besar padaku: menemu buku yang ia cari. Buku jadi tujuan tak terbantahkan meski hujan dan dingin. Ia datang jauh dari ujung kota Semarang, mengharap buku berpindah dari lemariku ke tangannya. Pertemuan diawali salaman dan senyum, berlanjut obrolan pada buku. Ia pembaca buku berideologi seleraisme. Perempuan beranak satu itu hendak berkenalan dengan nilai-nilai ketuhanan ala Nurcholish Madjid dan buku-buku Jawa. Aku merasa tak nyaman membaca ulasan buku Nurcholish Madjid. Buku itu beralih hak milik.

Perempuan memang gemar bercerita tentang hidup dan kenangannya. Obrolan dibuka basa-basi dan omong kosong, beralih menuju segi-segi hidup pribadi. Teh hangat jadi pelicin tema pembicaraan. Ia mulai membuka obrolan tentang hobi baca dan seleranya, juga kisah hidupnya, sementara aku menjadi pendengar yang budiman. Aku memang suka jadi pendengar mesti kerap pilih-pilih pembicara. Maka berceritalah ia tentang kenangan dan pergulatan batin. Perempuan adalah arsiparis kenangan paling handal. Ia bisa merangkai kenangan yang tersempil dari momen yang kadang hilang dari perhatian kaum pria. Aku mendengar dengan seksama dan tenang, mengharap ada informasi tak biasa dan menggoda. Ia bercerita, dan bercerita. Aku mendengar.

Temanku itu berhasrat mengobrolkan Jawa dan agama. Jawa sebagai bagian dari sejarah diri dan agama sebagai pengalaman lahir batin. Aku tak tertarik obrolan agama, aku menggiring obrolan bergerak pada dunia Jawa dan pengalaman batiniah seorang perempuan. Perempuan ini unik dan aneh. Kecintaan pada buku bermula dari trauma kecil dan ingatan. Ia bernasib dilahirkan dari orangtua berbeda agama. Di Indonesia perbedaan memang jadi alasan untuk orang-orang cerewet dan ikut campur.

Perempuan itu pun bercerita tentang pencarian jati diri kejawaan tak kunjung selesai, tak mudah terjawab. Maka pencarian itu terus berkelanjutan, mencari tahu tanpa merengek minta dikasih tahu. Maka pergulatan menjadi Jawa itu memunculkan sejumlah tuntutan dan pertanyaan. Tentang pemaknaan Jawa, adat, tradisi, dan mitologi yang terlanjur melekat pada diri dan keluarga. Perempuan yang baru saja kukenal itu menjerat dan melecut ingatanku tentang dunia jawa dalam ingatan, tentang masa-masa tak mengerti tentang kejawaan. Perempuan kurus itu bercerita di antara deras hujan. Detak jatuh hujan terlibas kisah dan kenangan. Berulangkali ia bertanya tentang buku-buku Jawa. Sayang sekali, buku-buku Jawa belum jadi tujuan menghabiskan duit. Novel masih memberi klangenan. Perempuan itu beralih pada pesan, agar bersedia membelikan jika menemukan buku-buku tentang kejawaan. Segelas teh jadi perantara menyambung obrolan perihal kejawaan dari kenangan seorang perempuan…
***
Peristiwa itu seminggu yang lalu, belum sempat terhapus ingatan-ingatan baru. Pengisahan Jawa memang jadi pembicaraan tak berkesudahan. Aku berjumpa lagi dengan obrolan Jawa tapi bukan sekadar curhat atau keluh kesah. Residensi Literasi di rumah Bandung Mawardi 1-14 Febuari jadi prosesi bersejarah dalam hidupku. Bertemu Suprapto Suryodharmo, seniman kawakan dari Solo. Nama itu asing bagiku, namun dari namanya aku menduga ada nilai-nilai jawaisme atau semacam darah Jawa. Nama Jawa memang kharismatik: Ki Hajar Dewantara, Ki Ageng Suryomentaram, Mas Marco Kartodikromo, Widyanuari Eko Putra. Mantap!

Mbah Prapto, panggilan akrabnya, berbicara tentang Jawa dan dirinya, tentang bagaimana memaknai Jawa sebagai manusia yang kritis, tentang bagaimana sikap Jawa dan kolonialisme. Lelaki bertubuh agak sedikit berisi, berbaju lurik, bertopi, dan bersanding rokok Gudang Garam, mulai menarik perhatianku. Obrolan diawali dengan isapan rokok namun sebentar, menandakan nafas yang sudah teramat pendek. Berbeda dengan aku yang masih sanggup mengisap rokok dalam-dalam. Mbah Prapto beradegan secara lambat, omongan pelan. Adegan mengisap rokok jadi peristiwa mengesankan, aku jadi punya teman mengisap rokok. Seorang perokok memang dituntut jenius dan intelek biar tidak terkesan wagu. Mbah Prapto dan aku seorang perokok.

Belum lama menyimak obrolan Mbah Prapto, tema sudah bergerak melintasi negara-negara di Eropa. Wah, ada dugaan yang keliru tentang Mbah Prapto. Aku terdiam memerhatikan, menerka kisah apalagi yang bakal ia ceritakan. Resepsiku terhadap Mbah Prapto mulai bergerak. Siapa sebenarnya Mbah Prapto? Maka berceritalah ia: tentang Jawa, performing art, tentang konsep berpikir-berkesenian, tentang budaya dan kolonialisme. Berangkat dari ungkapan “aku berpikir maka aku ada”, mengalirlah pemikiran-pemikiran tentang tafsir Jawa di mata seorang Mbah Prapto. Acuan ini merunut pada cara pikir Mbah Prapto yang menganggap bahwa, setelah dirunut secara lebih mendalam, Jawa belum sanggup menentukan identitas dan eksistensinya sendiri.

Jawa masih mewarisi luka-luka kolonialisme yang belum sanggup dimusnahkan dari ingatan dan tradisi. Niat untuk mengubah Jawa agar menemukan eksistensinya secara mandiri belum sanggup dicetuskan oleh para punggawa dan pemikir Javanologi sekalipun. Mitos dan cara pikir mistik masih terus awet dalam sanubari manusia Jawa. Aku tentu tak perlu sibuk mencari runutan materi untuk menyambung obrolan Mbah Prapto: Aku hidup dan tumbuh di lingkungan adat Jawa yang kental. Istilah ora ilok/ pamali masih aku jumpai, pedoman untuk mengingatkan tingkah polah manusia Jawa. Keterangan-keterangan lanjutan atau ilmiah belum dipakai secara umum sebagai nalar manusia Jawa.

Akhirnya keterbelengguan pada mitos ini sampai hari ini masih mengakar dan kencang mengikat. Ketidaksetujuan Mbah Prapto pada konsep mitos inilah yang memantik pemikiran untuk melepaskan diri dari kungkungan mitos yang berbau mistikisme. Pikiran dikerahkan, usaha ditambatkan, maka terjadilah sebuah dekonstruksi konvensionalitas adab Jawa. Mbah Prapto menolak mengawetkan sisa-sisa mental terjajah. Jawa mesti berbenah agar tidak melulu memandang diri sebagai ndoro. Obrolan bersama Mbah Prapto bagiku memang belum menemu titik yang terang. Beliau tidak menulis tapi kerap melontarkan pemikiran-pemikiran kritis-menyentil.

Jawa-Indonesia sudah terjajah hampir tiga abad. Kolonial merampok segala warisan berliterasi dan berpikir rasional. Menanamkan watak nerimo dan tak banyak bicara, penurut dan bodoh. Tan Malaka pernah mengkritik habis-habisan pola pikir ini lewat anjuran materialime, dialektika, dan logika. Pola pikir mistik melemahkan intelektualisme. Penerimaan serta pengagungan warisan sejarah tanpa disertai sikap kritis menimbulkan tafsir sejarah yang keliru. Manusia Jawa hendak berbangga tapi salah alamat. Tafsir kesembronoan kolonial dibuktikan lewat sejenis keterangan mencengangkan oleh Mbah Prapto: aksara Jawa perlu dirombak susunannya agar tidak melulu mewarisi kutukan-kutukan kolonial. Aku terdiam sebentar, sedikit bingung, merasa terlepas dari runutan kisah dan pemikiran Mbah Prapto. Aku baru menyadari, aku tertinggal arus informasi Jawa, terkutuk menjadi Jawa yang tak tahu tentang kesejarahan Jawa…

Pada detik ini pula aku teringat seorang teman perempuan yang tempo hari berkunjung ke kontrakan, menerjang hujan dan bertekad demi keingintahuan. Ia bertanya tentang buku-buku Jawa yang aku punya. Nahas. Aku tak punya. Aku tak sanggup menafsir lebih panjang pemikiran Mbah Prapto. Aku terdiam, menyesal. Tapi aku berjanji bakal merelakan hartaku demi membaca Jawa, demi pamrih mengerti pemaknaan Jawa agar tak terbodohkan atau mewarisi watak terjajah… 

3 Februari 2014.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar